Home > Lain-lain > Say The Word..

Lord, don’t trouble yourself, for I do not deserve to have you come under my roof. That is why I did not even consider myself worthy to come to you. But say the word, and my servant will be healed.
………………….   (Luke 7 : 6-7)

..

Pada suatu masa di awal millenium, tersebutlah seorang lelaki sederhana yang merupakan warga Romawi dan mempunyai dua orang putra. Saat itu Caesar Tiberius yang menempati posisi tertinggi sebagai pemimpin seluruh emporium yang berpusat di kota Roma. Kekuasaan bangsa Romawi telah sangat melebar hingga jauh ke arah timur hingga mencapai tanah Palestina. Dan ada seorang Rabbi yang kabarnya telah kembali dari tanah seberang dalam mencari ilmu, dia yang kemudian nanti akan dikenal dengan nama Tuan Guru Isa.

Kedua putra sang lelaki tumbuh menjadi dua kepribadian yang berbeda dan dia selalu membiarkan apa yang hendak menjadi kemauan mereka. Keduanya tumbuh sebagai putra-putra yang cakap dan santun serta mempunyai paras yang elok rupa. Sang putra tertua selalu pintar dalam menata kata dan karya-karya sastranya menjadi bahan perbincangan sampai ke kalangan istana. Sedangkan putra yang lain lebih memilih untuk berkarir di bidang militer dan lambat laun pangkatnya semakin bagus dan dikirim ke Palestina untuk menjadi Centurion yang memimpin sejumlah tentara.

Suatu hari sang ayah bermimpi mendengar sebuah suara yang mengatakan kalau perkataan dari salah satu anaknya akan menjadi abadi. Kalimat yang diucapkannya akan tertulis di dalam kitab selama ribuan tahun dan dibaca oleh ratusan generasi. Sang ayah menjadi sangat bangga dengan putra tertua yang sangat ternama dengan karya puisinya sehingga dia pergi dalam keadaan bahagia ketika mati. Satu yang dia tidak tahu kalau perkiraannya ternyata salah karena perkataan putra termudalah yang nanti akan tertulis di dalam kitab suci.

Pada suatu ketika sang Centurion mendapatkan pemuda yang menjadi pendampingnya tiba-tiba jatuh sakit terserang panas tinggi. Yang membuat tubuhnya basah berkeringat dan menggigil hebat sampai tidak lagi mampu untuk berdiri. Gundah gulana rasa hatinya, tak kuasa menahan tangis sambil mendekap orang yang sangat dia sayangi. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan obat penangkal supaya sang pemuda bisa sembuh, sampai ke ujung langitpun akan dia cari.

Sang Centurion pernah mendengar tentang seorang Rabbi yang memiliki mukjizat dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Dia kemudian meminta seorang tetua dari kaum Yahudi supaya sudi untuk memohon kepada sang Rabbi supaya mau meluangkan waktunya barang sedikit. Pergilah sang utusan menemui tuan guru Isa yang saat itu sedang berada di Capernaum, yang berjarak hanya ribuan kubit. Beliau menyanggupi dan berbondong-bondong beserta dengan pengikutnya datang untuk menjenguk si sakit.

Menjelang mendekati kediaman, sang Centurion berlari menyambut kedatangan rombongan dan menjatuhkan dirinya di kaki sang Nabi. Walaupun wajahnya berusaha untuk tampak tegar tetapi jelas tergurat dan terbaca akan kerisauan hati. Dan terucaplah kata-kata yang datang dari kerendahan lubuk hati yang paling dalam yang akan dikutip dan dibaca ribuan jutaan kali. “Ya Rabbi, tidak perlu kiranya tuan berada di bawah atapku karena aku hanyalah orang yang tidak berarti. Cukup perkataan dari tuan, semuanya akan bisa terjadi”.

Tuan guru Isa tersenyum serta memberikan restunya, bahkan tanpa bertemu dan menyentuh sang pemuda yang terbaring menjelang mati. Sang Centurion berlari ke dalam rumah dan menemukan kalau kekasih hatinya sudah sembuh tanpa meninggalkan tanda sakit sama sekali. Kepada pengikutnya tuan guru Isa berkata kalau belum pernah beliau menemukan kepercayaan dari seseorang yang sangat sungguh-sungguh seperti kali ini. Nanti banyak dari mereka akan datang dari segala penjuru untuk bersama-sama duduk dengan Abraham, Isaac dan Jacob tetapi mereka akan dicerca dan dibuang ke dalam kegelapan dengan ratapan dan gemeretak gigi.

..

Bulan Juni adalah Pride Month di seluruh dunia dan selama satu bulan ini kaum alphabet LGBTQ akan mengisi dengan berbagai perayaan dan pesta. Walaupun sudah diakui akan sangat susah untuk mendudukkan kedua belah pihak yang pro dan kontra dalam sebuah meja. Apalagi jika yang satu berbicara atas nama science sedangkan yang lain selalu membawa-bawa dogma agama. Dari berbagai aliran denominasi Kristen yang ada dan terbuka menerima kaum ini setidaknya mereka mencoba mengorek dari serpihan-serpihan ayat kalau tuan guru Isa sendiri sebenarnya tidak pernah mencela.

Cerita tentang Centurion yang meminta tuan guru Isa untuk menyembuhkan pelayannya kerap menjadi bahan kotbah di atas mimbar. Yang menjadi sorotan adalah keimanan sang Centurion yang tiada terbatas walaupun hanya cuma mendengarkan dari kabar-kabar. Sedikit yang mau menelaah tentang latar belakang cerita bagaimana sang Centurion yang terlihat begitu risau dan sangat gusar. Serta permintaan untuk tidak menjejakkan kaki di rumah karena kehidupannya bersama dengan pasangan sejenis dan sepertinya tuan guru Isa sudah tahu dan sadar.

Merupakan hal yang lumrah pada masa itu dalam kehidupan prajurit Romawi yang ditugaskan jauh untuk mempunyai pendamping seorang lelaki. Suasana perang dan kekerasan yang tidak menentu akan semakin dipersulit jika mereka turut serta membawa keluarga dan istri. Hanya petinggi-petinggi saja yang diperbolehkan tetapi itupun biasanya istri mereka lebih memilih untuk tetap tinggal di villa-villa di kota Roma yang asri. Sehingga ketika sang Centurion sangat kelimpungan dan bersedih hati, semua cerita menjadi masuk akal dan bisa dipahami.

Terjemahan ayat Alkitab yang dialih bahasakan dari bahasa Yunani mempunyai karakteristik yang berbeda ketika mengatakan tentang sesuatu. Seperti kata ‘pelayan’ dalam ayat tersebut disadur dari kata παῖς (pais) yang ternyata memiliki makna lebih dari satu. Sehingga banyak para ahli yang menafsirkan lain dan ayat ini kemudian juga dipakai sebagai pengesahan oleh kelompok tertentu. Tetapi saya malah menjadi tertegun saat membaca ayat lanjutan tentang ramalan kalau memang akan datang kaum yang itu dan serangan akan menimpa mereka dari berbagai penjuru.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan :
Mathew 8 : 5-13
Luke 7 : 1-10
John 4 : 46-54