Home > Lain-lain > Köln..

Nama-nama yang dahulu pernah familiar terpampang di dinding bangunan seperti Grundig, Allianz, Opel, BASF begitu kaki saya menginjak di tanah Jerman. Kami dahulu pernah mempunyai TV salon merek Grundig yang bagaikan dalam kotak lemari kecil yang mempunyai pintu yang untuk membukanya harus digeser ke kiri dan kanan. Atau pita kaset rekaman yang selalu ada nama BASF sebagai jaminan mutu yang tertera di bagian sampul depan. Negara Jerman memang pernah terkenal sebagai penghasil alat elektronik terkemuka sebelum produksi murah meriah buatan Jepang dan China memasuki pasaran.

Salah satu yang membuat saya ingin ke Köln adalah karena melihat di internet gambar jembatan dengan atap yang melengkung tiga. Jembatan yang membelah sungai yang terlihat sangat bersih dengan sebuah gereja di ujungnya yang bermenara dua. Saya dahulu pernah mempunyai sahabat baik asal Indonesia yang tinggal di Köln untuk beberapa lama. Dia selalu bercerita tentang kehidupan di kota ini, ah.. tetapi saat kini saya datang ternyata dia sudah pindah ke seberang di lain negara.

Saya memang tidak begitu tertarik dengan kota-kota di Jerman, tidak ada satupun yang masuk ke dalam daftar kunjungan. Apalagi ketika melihat gambar-gambar kota Berlin yang tatapannya terasa dingin walaupun bukan di musim ketika daun telah lama berguguran. Saya pernah transit di Frankfurt dan Münich, tetapi tidak pernah ada keinginan untuk keluar dari bandara dan pergi ke downtown untuk berjalan-jalan. Dan kini saya keluyuran ke sana dengan setengah hati dan tidak berharap untuk mendapatkan kejutan.

Dan benar saja, dua hari pertama di sana saya sudah mendapat pengalaman yang tidak begitu mengenakkan. Orang-orang Jerman memang as*hole tingkat tinggi dan saya tidak bisa tidur nyenyak karena mereka ribut semalaman di jalanan. Selain itu saya tidak melihat keistimewaan dari ras Arya yang dahulu digadang-gadangkan oleh Hitler sang tyrant. Tidak banyak terlihat gadis-gadia Bavaria yang cantik berambut pirang atau pemuda bermata biru yang tampan, tidak seperti di Barcelona atau Roma, di mana mata akan bisa keseleo karena selalu jelalatan.

Köln berdiri di tepi sungai Rhein, salah satu dari tiga sungai yang menjadi urat nadi negeri Jerman. Berdiri sejak abad pertama dengan nama Roman Colonia Agrippina sebagai bagian dari daerah jajahan dan produksi Eau de Cologne 4711 menjadi trademark untuk nama wewangian bagi para pejantan. Sayang kota ini hancur lebur saat perang dunia kedua yang kini hanya menyisakan sedikit saja dari bangunan-bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri bertahan. Sehingga landmark kota Köln merupakan produk baru campuran antara design modern dengan rekonstruksi yang sampai sekarang masih terus berjalan.

 

Pusat keramaian hanya berkisar di areal seluas dua kilometer persegi yang berpusat di Kölner Dom atau Cologne Cathedral dan Alstadt, kota tua. Jenjang dari bangunan gereja yang menuju pelataran stasiun kereta atau Hauptbahnhof menjadi tempat anak-anak muda bercengkerama. Para anak-anak punk dengan rambut yang dicat aneka warna bersebelahan dengan anak Gothic yang berdandan serba hitam dari mulai kaki hingga ke kepala. Suasana nyaman menikmati senja hanya diganggu oleh para wanita immigrant asal Romania yang datang merengek-rengek untuk meminta sedekah.

Di Heumarkt sebuah lapangan yang terletak di daerah kota tua, telah ramai dengan orang-orang yang menikmati wine bersama teman dan kolega. Ada ribuan orang telah berkumpul serta puluhan warung pop-up yang menyediakan kursi dan meja. Pada saat weekend daerah ini menjadi sangat ramai dan tidak usah khawatir jika tidak mendapat tempat duduk, selonjoran saja di lantai membentuk lingkaran bersama-sama. Semua gelas minuman terbuat dari plastik yang tampak sangat mirip dengan aslinya yang bisa dibawa kemana-mana, sehingga tidak perlu takut akan pecahan kaca.

Berjalan-jalan menyusuri jalanan kota tua yang terbuat dari susunan batu-batu koral yang sangat rapi di tata. Hanya sekali-sekali saja saya mendapatkan sebuah lorong alley yang hening membisu di antara kegaduhan yang ada. Atau strolling di promenade yang terdapat di kedua pinggiran sungai Rhein sambil menikmati sore hari menjelang senja. Saya terduduk di jenjang teras yang memanjang di sebelah timur sungai melihat pemandangan indah yang terpampang di depan mata, ah.. ternyata saya memang tidak begitu menyesal untuk datang mengunjungi Köln, kota yang pernah diceritakan oleh teman saya.

Tabik.

B. Uster Kadrisson