Home > Lain-lain > Tragedi si Somad..

Berita terbaru yang bikin heboh di negara +62 adalah ketika si Somad pamer photo saat ngendon di bilik imigrasi negara Singapur. Kabarnya dia tidak diijinkan masuk untuk menginjakkan kakinya, yang semua juga tahu kalau rekam jejaknya kotor dan penuh dengan lumpur. Dan ini bukan kali yang pertama karena dia sudah pernah sebelumnya diusir dari Hong Kong yang memaksa doi untuk harus angkat koper dan segera pulang kembali ke tanah leluhur. Dan seperti biasa nanti pengikutnya pada demo dengan tuduhannya adalah kriminisimilikiti ulimi yang ujung-ujungnya meminta presiden RI untuk turun dari tampuk pemerintahan karena telah bertindak sebagai diktator.

Dahulu sebelum menetap di Amerika, saya sudah menjadi langganan untuk masuk ke bilik interogasi milik badan imigrasi hingga sampai hapal prosedurnya karena pernah mengalami mungkin ada sebanyak empat kali. Alasannya cuma simple karena saya beragama Islam dan datang dari negara dengan jumlah Muslim terbesar yang saat itu masuk di dalam radar intelijen internasional sebagai sarang teroris yang tidak punya hati nurani. Dan herannya saat transit di berbagai bandara saya juga selalu kena dicokok pemilihan yang bersifat random untuk pemeriksaan yang lebih intensif. Sampai pernah mengalami sebanyak tiga kali dalam satu hari dan sampul pasport saya penuh dengan tempelan stiker kecil-kecil yang tidak boleh dicabut yang sepertinya memang ada arti.

Nga sih, mereka nga terlalu banyak tanya, hanya pertanyaan umum tentang maksud dan tujuan kunjungan. Dan mereka membiarkan saya terkurung di sebuah ruangan kecil tanpa ada bilik petulasan selama berjam-jam. Ada larangan untuk menggunakan cellphone, sehingga buku yang selalu saya bawa menjadi pengisi waktu dan sebagai teman. Saya sih santai-santai saja, karena semua cerita dan data pribadi saya hingga detail yang terkecil, sampai suara juga sudah ada mereka rekam.

Jika sudah berada di tangan badan berwenang imigrasi, tidak ada pilihan yang lain lagi selain pasrah dan menunggu. Wajah sebaiknya dipasang datar sewajarnya, karena nga akan ada gunanya untuk tersenyum-senyum atau tersipu malu. Apalagi jika sang tamu mencak-mencak tidak karuan, mungkin akan langsung ditendang jauh-jauh tanpa ada kata ba bi bu. Terus terang mereka memang mempunyai kekuasaan yang mutlak, mungkin berasa bagaikan Janus, sang dewa penjaga pintu.

Pengalaman yang lain lagi, saya pernah ditahan oleh badan bea cukai di bandara sampai dua kali saat menginjakkan kaki di Italy. Saya dimasukkan ke kamar pemeriksaan yang dijaga sangat ketat oleh pihak security. Tas saya diperiksa secara detail sampai ke sela-sela jahitan selama setengah jam dan saya cuek saja karena memang nga ada yang perlu ditakuti. Belakangan baru saya ketahui kalau kelakuan minimalist traveler yang saya punyai sedikit mencurigakan karena berplesiran selama tiga minggu dengan hanya ransel kecil biasanya dilakukan oleh penyeludup narkoba yang ingin cepat-cepat pergi.

Jika tidak diijinkan lewat yah tidak usah berkecil hati, keluyuran saja di bandara yang luas, sekalian belanja-belanji jastip dan bela-beli. Dahulu ada teman saya orang Korea di San Francisco yang suka mengumpulkan mileage point, dan dia suka terbang menempuh perjalanan yang sangat jauh saat tiket diobral dengan harga murah sekali. Dia hanya sampai di bandara tujuan tanpa keluar sama sekali karena berbagai alasan seperti sudah pernah mengunjungi atau cuaca yang sangat ekstrim di lokasi. Dan nanti dia akan kembali pulang, sementara point yang dikumpulkan akan dipakai untuk mengupgrade ke bisnis class dalam penerbangan di lain kali.

Bandara-bandara international di seluruh dunia yang menjadi transit hub seperti Changi atau Abu Dhabi yang biasanya sangat megah bagaikan mall raksasa. Ada tersedia hotel lengkap dengan kolam renang dan berbagai restoran, serta toko-toko untuk belanja atau sekedar cuci mata. Tom Hanks pernah terperangkap di bandara dalam film The Terminal, yang berdasarkan kisah nyata Mehran Karimi Nasseri, warga Iran yang tinggal di Terminal One bandara Charles de Gaulle di Paris, 18 tahun lamanya. Kemarin, juga ada sekelompok anak-anak remaja di Amerika yang mencoba untuk tinggal di airport selama beberapa hari sebelum ketahuan oleh pihak keamanan, hanya untuk sekedar membuat konten di sosial media.

Tetapi sayang, si Somad beserta rombongan datang ke Singapur dengan menumpang getek yang mendarat di Terminal Pelabuhan Tanah Merah. Tentu saja fasilitas di pelabuhan ferry tidak seperti di bandara internasional yang serba mewah. Sehingga dia cuma terkurung di kamar 1×2 dan tidak bisa belanja bela-beli barang mahal, paling juga yang ada pakaian sekelas Monza.* Nasibmulah Mad, yang ditolak di sana-sini dan tidak diterima di mana-mana, semoga dickau^ bisa diterima di sisi Allah subhana wa ta’ala.

Yang herannya masyarakat +62, malah sibuk berdebat untuk memberikan klasifikasi apakah si Somad tidak boleh masuk atau dideportasi. Dalam istilah immigrasi memang ada istilah removal atau deportation jika terjadi penolakan atau ‘denied entry’ di pintu-pintu gerbang yang resmi. Sepertinya lebih tepat menggunakan term deportasi karena doi sudah melintasi laut atau benua serta telah menginjakkan kaki dan bukan hanya sekedar garis perbatasan di darat yang akan mau dilewati. Dan sebaiknya ketika dia akan dipulangkan, harus di cek kesemua anggota badan harus utuh dan jangan ada yang ketinggalan sedikitpun terutama masalah gigi.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan : *Monza = Monginsidi Plaza, sebuah istilah orang Medan untuk pedagang kaki lima di sekitar jalan Monginsidi yang menjual pakaian kodian dari luar negeri.
^ini bukan typo, istilah ini hanya bagi yang mengerti.