Home > Lain-lain > Punchline..

Ada sebuah photo yang sangat menarik bagi saya ketika ayahanda Jokowi bertandang ke markas Space-X di Boca Chica. Lokasi ini terletak di negara bagian Texas, di tepi barat Gulf of Mexico yang tidak jauh dari perbatasan Mexico dan Amerika. Mas Elon menemani ayahanda Jokowi berkeliling kompleks untuk melihat-lihat pembuatan roket yang nanti akan diterbangkan keluar angkasa. Dengan gaya yang sangat super santai, dimana ayahanda Jokowi dengan baju putih khasnya sedang mas Elon hanya mengenakan baju kaos seharga 29,99 dollar saja.

Photo yang menurut saya menarik tersebut adalah yang memperlihatkan keduanya sedang tertawa terbahak-bahak. Pipi mas Elon tampak memerah semu, entah mungkin karena setelah berpanas-panasan atau mungkin juga karena tidak tahan menahan gelak. Dari ekspresi keduanya, terlihat kalau sepertinya lelucon yang dilontarkan oleh ayahanda Jokowi bisa ditangkap oleh mas Elon dengan semarak. Orang Amerika memang paling suka berkelakar, tetapi jika bahasa tidak nyambung jangan harap mereka akan membalas dengan tertawa ngakak.

Artinya, kemampuan ayahanda Jokowi dalam berkomunikasi dalam bahasa Inggris pastilah pancen oye. Saya saja yang sudah lama tinggal di Amerika kadang masih keteteran untuk melemparkan joke yang oke. Untuk membuat seseorang bisa tertawa lepas sampai muka memerah haruslah mempunyai punchline yang menohok di ujung cerite. Kalau tidak, lelucon akan terdengar garing dan hanya dibalas dengan senyum mesem-mesem ala kadarnya sambil berpikir, ‘apa sih mangsudnye’.

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap kali menuliskan status atau artikel, saya membuatkan terjemahan edisi bahasa Inggrisnya. Sama seperti tulisan dalam bahasa Indonesia, saya terpaksa harus sedikit merubah tata letak supaya ujung kalimat bisa mempunyai rima. Tidak terlalu susah bagi saya, karena kata-kata dalam bahasa Inggris banyak sekali yang mempunyai persamaan nada. Apalagi semua kata bisa dijadikan past-tense verbs atau preterite dengan menambahkan d atau ed, atau juga gerund yang menggunakan akhiran -ing, sehingga tidak terlalu susah.

Yang sedikit rumit adalah ketika mencoba menterjemahkan lelucon yang saya tulis ke dalam bahasa ibu. Karena punchline-nya yang tidak nyambung atau pemilihan kata yang tidak cocok sehingga terdengar menjadi kaku. Terutama kalau ingin mengojok-ngojok kaum kadrunista beserta pentolan-pentolannya yang sering tidak tahu malu. Mungkin akan terasa gampang kalau saya menuliskan dalam bahasa Arab, karena mereka mempunyai nama alias yang keren yaitu ‘dhab’, sejenis kadal gurun yang juga suka bersembunyi di balik batu.

Tabik.

B. Uster Kadrisson