Home > Lain-lain > Let’s Talk About Sex.. (Exhibitionism)

Sekali waktu saat sedang nakal-nakalnya, saya bersama beberapa teman acap mengunjungi klub malam, entah itu sekedar bar atau ruangan tempat bergoyang. Kita cuma sekedar cuci mata, tetapi adakalanya satu atau dua kali bisa berhasil membawa orang pulang. Saya paling malas sebenarnya kalau ketemu atau berkenalan dengan orang di bawah sinar temaram lampu yang remang-remang. Phenomena lampu strobo yang seperti kilat di waktu siang memberikan efek seseorang terlihat menawan saat gelap tetapi jauh dari ekspektasi ketika lampu sudah terang benderang.

Tidak, saya tidak pernah mabuk karena minuman yang saya pesan hanya berupa sekelas soda seperti Sprite atau Coca Cola. Saya sangat-sangat jarang menyentuh alkohol, karena sudah mempunyai pengalaman sejak saya masih remaja kala mencoba berbagai minuman bersama dengan ayah. Sehingga ingatan saya sangat bersih akan pengalaman yang saya alami saat bergembira bersama teman-teman di lantai dansa. Tidak seperti cerita teman-teman yang lain yang membawa orang pulang ke rumah dan menyesal keesokan harinya, karena yang terbawa benar-benar Upik Abu dan bukan Cinderella.

Pernah sekali, perkenalan saat duduk di kursi bar membawa pengalaman baru yang sedikit agak rada-rada. Wajahnya jelas lumayan cakep di bawah sinar lampu yang cukup terang sehingga saya tahu kalau dia bukan ogre atau sebangsanya. Tangannya yang mulai meraba-raba dan membisikkan jika saya ingin ‘quickie’ barang lima atau sepuluh menit saja. Saya kemudian terus terang bertanya sebelum nanti terjebak, kalau dia bukan salah seorang yang sedang berjualan alias PSK.

Dia mengajak saya ke kamar kecil discotheque yang memang unisex sehingga siapa saja bisa masuk tanpa harus tanya-tanya. Kita masuk ke booth yang ada di pojok dan tampaknya sudah ada pasangan lain di booth sebelah yang juga mempunyai pikiran serupa. Celana sudah melorot dan herannya dia memang sengaja membiarkan pintu sedikit setengah terbuka. Sambil kepalanya celingak celinguk ke arah pintu dan semakin bergairah ketika ada orang yang melihat dari celah-celah.

Saya juga bukan type pemalu, karena tidak ada yang disembunyikan soalnya bentuk badan saat itu dan semua perlengkapan onderdil boleh untuk menjadi cover majalah. Apalagi saya pernah hampir ikutan casting menjadi pemain film dewasa, jadi nga ada rasa risih cuma sedikit curiosity karena ini merupakan pengalaman yang berbeda. Dan herannya dia menutup pintu ketika ada orang lain semakin mendekat dan tampaknya ingin untuk turut serta. Saya pernah membaca tentang type exhibitionisme jenis ini yang hanya ingin orang lain menonton saja ketika dia sedang bekerja.

Ada kasus exhibitionisme yang tengah ramai dibicarakan di Indonesia tentang seorang wanita yang kerap menunjukkan lekuk tubuhnya dan mengambil photo atau video. Wanita berusia 23 tahun ini melakukan pengambilan gambar di tempat-tempat umum seperti Yogyakarta International Airport atau bandara Kulon Progo. Dia kemudian menjual ke beberapa situs dewasa semua photo-photo dan video yang dihasilkan dengan melakukan pemotretan secara auto. Walaupun baru memulai karir sejak pertengahan tahun ini, tetapi jumlah pemasukan yang diperolehnya sudah mencapai milyaran rupiah yang membuat banyak mulut ternganga dan melongo.

Walaupun menurut keterangan polisi yang dikutip dari pengakuan sang pelaku kalau dia melakukan hal tersebut hanya untuk kepuasaan diri sendiri. Tetapi rasanya sangat bertolak belakang dengan typical kaum exhibitionists yang biasanya tidak pernah atau jarang melakukan dokumentasi. Jika melihat keuntungan materi yang sangat besar yang didapat oleh sang pelaku dari jaringan internet sehingga alasan gangguan psikologi tampaknya hanya sebagai dalih. Bagi saya yang jelas dia merupakan seorang aktor pornography yang mengambil spesialis jenis outdoorsy.

Exhibitionisme adalah termasuk gangguan kejiwaan kalau dorongan gairah untuk melakukan terjadi di tempat-tempat umum dan menunjukkan alat genital kepada orang lain. Lebih banyak terjadi pada pelaku pria yang dikenal dengan sebutan flasher yang umumnya suka memperlihatkan alat kelamin. Pengaduan dari pada korban bisa membuat mereka tertangkap dan masuk penjara dengan hanya dikenakan hukuman ringan sama seperti ganjaran karena mengganggu ketertiban lalin. Jarang sekali ada laporan yang terjadi pada pelaku wanita karena di dunia barat sudah terbiasa dengan melihat perempuan yang berpakaian sudah super minim.

Satu-satunya flasher wanita yang tercatat dalam sejarah adalah Caterina Sforza yang merupakan countess of Forli, sebuah kota di Italia abad 15. Dia menolak untuk menyerah walaupun anak-anaknya digunakan sebagai tawanan dan diancam untuk dibunuh, setelah suaminya tewas. Dia berdiri di tebing menara dan menghadap ke arah musuh yang tengah mengepung bentengnya dan mengangkat roknya tinggi-tinggi ke atas. Sampai menampakkan kemaluannya sambil berkata ‘lakukan apa yang kalian inginkan karena aku masih mempunyai pabriknya yang tidak terbatas’.

Banyak type exhibitionisme, seperti cerita saya di bagian awal tulisan yang dikenal dengan nama martymachlia. Atau flashing yang dilakukan oleh kaum wanita saat pesta Mardi Grass di New Orleans yang suka menunjukkan payudara demi seuntai kalung manik-manik yang berharga murah. Sedang kaum nudist bukan termasuk ke dalam kategori ini karena mereka melakukan di areal yang diperbolehkan dan bukan bertujuan untuk mencari sensasi tetapi mungkin hanya karena kepanasan dan gerah. Ada beberapa pantai nudis yang legal di Amerika, seperti di bawah jembatan Golden Gate di San Francisco atau Long Island, New York.. ah.. kok saya jadi malu untuk mengaku kalau juga pernah ikutan berbugil ria di sana.

Tabik.

B. Uster Kadrisson