Home > Lain-lain > Let’s Talk About Sex.. (foot fetish)

Sewaktu kecil saya paling malu dengan ukuran betis saya yang lebih besar dari pada teman-teman yang sebaya. Apalagi sewaktu SMP saat masih mengenakan celana biru kutung, sehingga saya terpaksa mengenakan kaos kaki panjang yang ketika itu merupakan hal yang biasa. Soalnya teman-teman sering meledek saya sebagai penarik becak dan menanyakan di mana letak parkir kendaraannya. Sampai pernah saya berpikir untuk suatu saat nanti saya akan mengoperasi supaya betis saya tidak terlalu berisi yang tampak bagaikan talas Belanda.

Saat SMA, pikiran itu menjadi berubah karena teman-teman malah memuji kaki saya karena bentuknya yang terlihat cukup indah. Memang iya, karena ketika pelajaran olah raga saya melihat anggota gerak bagian bawah dari mereka yang kebanyakan berbentuk lurus dan kurus bagaikan kaki meja. Sejak itu kepercayaan diri saya semakin bertambah dan tidak perduli lagi dengan cemoohan dan apa kata dunia. Apalagi setelah saya hidup di Amerika, mereka bisa dengan gamblang mengatakan ‘you have a nice leg’ ke depan muka saya.

Dan saya pernah ngedate seorang bule yang lebih doyan sama kaki saya dari pada onderdil tubuh yang lainnya. Sedang saya cukup pede ngedate orang asing karena anggota yang satu itu nga malu-maluin dan bukan typical ukuran orang Asia. Saya mengenalnya di ruang gym saat latihan yoga dan pastinya dia sudah terlebih dahulu melirik dari bayangan di kaca cermin sebelum datang menyapa. Sehingga ketika sudah ada kesempatan ngamar berdua, dia langsung melorot ke bawah tanpa ada basi dan basa serta tanya-tanya.

Tadinya saya pikir dia akan melakukan ‘you know what’ karena barang yang satu itu juga termasuk indah dan sudah berdiri dengan megah. Tetapi setelah sekian lama kok kepalanya nga naik-naik malah semakin jauh mengarah ke arah bawah. Dia hanya fokus di bawah lutut, dari mulai betis, tumit serta jari-jari kaki yang tidak kapalan dan juga beruntung tidak bau karena saya selalu menjaga. Terus terang saya jarang melakukan perawatan kaki dan saya lebih sering berjalan tetapi untungnya kulit kaki saya tidak mudah kering dan pecah-pecah.

Jika kalian bertanya apa enaknya, oh.. oh.. oh.. sensasi yang dia berikan bagaikan pijatan ahli podiatris kelas utama. Betis dibelai-belai dan telapak kaki digelitik serta dielus-elus sehingga memberikan perasaan seperti sedang berjalan di atas awan mega. Semua jari kaki dikulum-kulum dan dihisap satu persatu serta dibelai dengan lidah. Ketika dia menggunakan kaki saya untuk membelai bagian antara paha dan dada, serta sepertinya dia juga memasukkannya di antara celah yang ada, ah.. entahlah saya sudah lupa karena ketiduran saking enaknya.

Fetish terhadap anggota badan selain genital bukan sesuatu yang taboo karena termasuk merupakan hal yang sangat biasa. Ketika melihat seseorang, biasanya kita suka memuji keindahan bagian lain dari tubuhnya, apakah itu bentuk jari tangan yang lentik atau rambut di kepala. Yang lebih cepat untuk menarik perhatian wanita biasanya adalah bentuk otot lengan yang kekar atau bulu-bulu halus di lengan bagian bawah. Atau bagi pria juga mungkin bentuk dari ketiak yang mulus tanpa bulu atau pada wanita malah lebih suka yang sebaliknya.

Foot fetish merupakan fetish yang terbanyak dan lebih umum dijumpai, seperti Ken Arok yang jatuh cinta seketika kala melihat betis Ken Dedes saat dia turun dari kereta kencana. Atau raja Solomon yang terkesima akan keindahan kaki ratu Sheeba ketika gaunnya tersingkap di atas lantai kaca yang berkilauan seperti permukaan telaga. Tingkat yang paling ringan adalah kegilaan akan sepatu seperti mantan ibu negara Imelda Marcos atau Carrie Bradshaw dalam serial Sex and The City yang melegenda. Juga termasuk di dalamnya yang dinamakan olfactophilia, yang kadang-kadang tanpa sadar kita suka mencium bau kaki sendiri setelah membuka sepatu saat masuk ke dalam rumah.

Saat menonton perayaan Folsom Street Fair di San Francisco dulu, ada sebuah stand yang mengkhususkan diri untuk foot fetish atau yang juga disebut dengan podophilia. Di sana tersedia sepatu-sepatu seksi yang bukan untuk dipakai berjalan-jalan tetapi sebagai foreplay di kamar tidur, juga aneka kaos kaki dan cincin untuk jari kaki yang berhiaskan permata. Juga tersedia replika kaki dari karet lateks, ada yang sebatas tumit atau setinggi tulang kering dengan type milik pria atau wanita. Dan yang lebih mengagetkan ada dildo atau masturbator yang juga berbentuk kaki, ah.. keanehan manusia memang tiada batas dan ada-ada saja.

Tabik.

B. Uster Kadrisson