Home > Lain-lain > Let’s Talk About Sex.. (cross dressing)

Ini serial ke delapan yang saya tulis tentang perihal serba serbi kehidupan seksual yang selama ini sangat jarang dan taboo untuk dibicarakan. Walaupun saat ini semua pengetahuan bisa dicari di internet tentang segala macam bentuk variasi untuk mencari kepuasaan batin atau kesenangan daerah selangkangan. Tetapi pengalaman mendengar dari tangan pertama akan terasa sangat berbeda dari pada hanya sekedar mengetahui cerita dari kebanyakan orang. Saya saja yang pernah mempelajari ilmu tentang kejiwaan. sampai sekarang masih juga tidak pernah mengerti tentang berbagai cara ekspresi diri yang terkadang bisa tergolong sebagai sebuah penyimpangan.

Kemarin ada terlintas di beranda saya sebuah berita tentang seorang laki-laki yang tinggal di negara Jerman yang gemar memakai pakaian perempuan. Dia mengaku normal secara seksual dengan mempunyai istri dan 3 anak, dan telah tahunan mengenakan busana wanita saat bekerja dan juga dalam kehidupan kesehari-harian. Dia suka mengenakan rok span serta gemar mengenakan sepatu perempuan berhak tinggi dan dari cara duduknya juga sudah terlihat feminim nian. Terserah apapun alasan yang dia kemukakan, hanya dia dan Tuhan yang tahu mengenai isi hati dan perasaan.

Riwayat cross dressing sudah lama ada di dalam catatan sejarah, walaupun bisa terjadi kepada kedua belah jenis tetapi yang lebih sering menjadi sorotan bila dilakukan oleh pria. Seperti Emperor Nero dan Elagabus dari kerajaan Romawi, atau Edward Hyde yang merupakan Gubernur Jendral negara bagian New York dan New Jersey, dahulu kala. Tokoh dalam mythology seperti Thor, Hercules dan Achilles pernah dipakaikan pakaian wanita untuk mengelabui musuh, menjadi budak atau supaya tidak dipilih menjadi tentara. Sedang dalam cerita mahabharata, demi menjaga rahasia para Pandawa, Arjuna pernah menyamar menjadi guru tari wanita dan Khrisna juga sering bertukar pakaian dengan Radha.

Walaupun menilik kebelakang dengan kaca mata sekarang, seragam tentara Romawi dan busana tradisonal kilt dari Scotlandia juga terlihat seperti rok wanita, tetapi masalah itu terlihat sangat berbeda. Atau seperti di Indonesia, banyak kaum dasteran yang mabuk agama terlihat seperti emak-emak yang mau pergi belanja ke pasar murah. Sedang pakaian wanita yang beredar di pasaran banyak yang meniru baju pria dengan sedikit modifikasi seperti perubahan bentuk kerah. Saat masih buta gaya, saya pernah sekali salah dalam membeli kemeja, yang kemudian merasa aneh karena letak deretan kancing yang berbeda.

Dahulu sekali saya pernah mempunyai seorang teman yang terbilang cukup baik dan mempunyai nama dagang Steffanie. Ya.. dia saya sebut mempunyai nama dagang karena nama tersebut yang dia pakai saat memasang iklan ketika sedang menjual diri. Steffie, nama panggilan manisnya, mengiklankan diri sebagai Top Trans di berbagai media termasuk beberapa koran lokal atau di craigslist, yang waktu itu sebagai mesin internet pencari. Walaupun praktek prostitusi sebenarnya terlarang di New York, tetapi dengan mengatakan sebagai escort atau teman kencan sehingga mereka bisa berdalih jika tertangkap tangan oleh polisi.

Steffie, yang secara normal adalah seorang laki-laki tetapi dia mencari nafkah dengan cara menjadi perempuan. Dari photo-photo yang dia tunjukkan ketika berdandan, memang terlihat cukup cantik walaupun bukan sekelas bidadari yang turun dari khayangan. Bagi saya yang banyak melihat wanita Latino di sekitar perumahan, dia dengan kulit sedikit kecoklatan terlihat sebagai typical mereka yang kebanyakan. Perempuan-perempuan Amerika Latin banyak yang terlihat cantik dan menarik, tetapi kalau sudah marah atau merengut kadang sering terlihat garis-garis kejantanan.

Biaya untuk bisa berkencan dengan kelompok seperti Steffie tergolong mahal dan melebihi dari pekerja wanita yang asli. Menurutnya merupakan sesuatu yang wajar karena mereka memerlukan biaya yang lebih banyak untuk mempercantik diri. Bulu-bulu tubuh bukan cuma dikerok dengan pisau cukur biasa tetapi harus diwax secara rutin terutama daerah sekitar pakaian bikini. Pekerja seksual komersial wanita mungkin tidak perlu persiapan yang banyak karena memang sudah alami, tetapi Steffie mengaku harus dandan paling tidak selama 3 jam supaya bisa tampil sesuai dengan ekspektasi.

Kadang saya melongo mendengar cerita tentang client-clientnya yang merupakan pria-pria yang terlihat sangat normal yang tak kurang dan tak lebih. Biasanya adalah para businessman luar kota yang datang berkunjung dengan jas lengkap yang rapi serta berdasi. Pernah dia menunjukkan beberapa buah photo clientnya yang dia ambil dengan cara mencuri-curi. Mereka merupakan termasuk pria-pria kulit putih yang cakap rupa dan tidak terlihat keanehan sama sekali.

Yang paling menarik adalah ketika cerita Steffie dengan mereka di atas ranjang yang bagi saya sama sekali tidak bisa terbayang. Mereka yang merupakan pria-pria tergolong normal dan kadang berkeluarga, tetapi ketika di atas kasur rela untuk tidur mengangkang. Steffie sebagai top trans, bertindak sebagai pesodomi dengan semua atribut kewanitaan yang masih lengkap menempel di badan. Satu menurutnya yang kadang susah untuk dijaga, yaitu supaya tetap tampil feminin dalam melaksananan tugas juang.

Saya tidak tahu bagaimana harus menggolongkan type mereka, karena terus terang mereka menolak untuk disebut gay atau kaum homoseksual. Bagi Steffie sendiri, itu hanya sebuah bentuk pekerjaan yang menurutnya lumayan mudah untuk dijalani dengan memberikan hasil keuangan yang maksimal. Dan saya pernah membaca sebuah artikel tentang seorang laki-laki pemain film porno yang mengaku normal dengan mempunyai istri dan anak, tetapi selalu berperan sebagai bottom gay karena menurutnya lebih menjual. Kadang nalar dan daya pikir saya tidak pernah bisa sampai untuk mencerna tentang berbagai perilaku demi pekerjaan dan kepuasan seksual.

Tabik.

B. Uster Kadrisson