Home > Lain-lain > Mongolia..

Ketika kemarin saya pulang kerja, iseng-iseng mampir ke sebuah restoran Mongolia yang ada di seberang perapatan. Mereka sudah ada sekitar tiga tahun berdagang di sana tetapi saya tampaknya tidak begitu tertarik untuk mencoba menu makanan. Dari gambar yang ada terpajang di dinding luar warung, rasanya masih jauh lebih berkesan melihat hidangan nasi Padang. Tetapi akhirnya rasa penasaran membawa saya untuk masuk dan mencoba memesan beberapa menu untuk dibawa pulang.

Dari melihat daftar menu makanan yang ada rasanya saya tidak begitu memiliki semangat yang amat sangat karena terlihat sama saja seperti makanan China. Ada aneka dumpling, congee yaitu bubur dari gandum dan sup daging yang rasanya nyaris hambar dengan hanya beberapa sayuran sebagai tambahan penghias belaka. Karena tradisi mereka yang memang tidak mengenal banyak rempah-rempah sehingga masakan cenderung minim bumbu yang bisa untuk menggugah selera. Hanya sate kambing yang mungkin bisa membalas rasa penasaran tetapi sepertinya tidak juga terlalu istimewa.

Ada sebuah lukisan yang di pajang di ruang tengah restoran dan walaupun dengan keterangan aksara yang tidak bisa saya baca tetapi saya tahu persis tokoh yang digambarkan. Siapa lagi kalau bukan sosok legenda sejarah kebanggaan mereka, sang penakluk yang dikenal dengan nama the Great Chinggis atau Genghis Khan. Terlahir dengan nama Temujin, dia diceritakan lahir dengan memegang gumpalan darah yang diramalkan akan menjadi orang besar sepanjang jaman. Daerah taklukan Genghis Khan meluas sangat jauh hingga ke benua Eropah yang berbatas di sebelah barat ke tanah yang kini termasuk negara Polandia serta Mesir di sebelah selatan.

Supaya makanan bisa tertelan, terpaksa saya modifikasi dengan menambahkan saos kecap pedas ABC dengan sedikit micin untuk agar lebih menarik. Untuk melengkapi acara night in Mongolia, saya mencoba menikmati makan malam sembari menonton beberapa episode dari serial Marco Polo yang ada di Netflix. Marco Polo asal Venezia terkenal dengan petualangannya selama beberapa puluh tahun di kalangan istana Kublai Khan yang eksentrik. Kublai Khan adalah cucu dari Genghis Khan dan seperti juga Julius Caesar yang meninggalkan kosa kata kaisar, nama belakang mereka menjadi istilah untuk daerah kekuasaan peninggalan Mongolian Empire yaitu Khanate yang sedikit unik.

Sepeninggal Genghis Khan yang menguasai hampir seperempat dunia pada abad 13, daerah kekuasaan kemudian dibagi menjadi empat Khanate. Kublai Khan adalah yang paling terkenal karena menaklukkan dinasti Song di daratan China dan membangun dinasti Yuan yang gaungnya sampai ke nusantara, tanah yang keramat. Ketika itu Raden Wijaya baru saja membangun Majapahit, dan dengan cerdik dia berkolaborasi serta menggunakan kekuatan militer China yang bermaksud menaklukkan Jawa, untuk mengalahkan Jayakatwang yang akhirnya menyerah tanpa syarat. Setelah lawan bisa ditaklukkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan China sedikit demi sedikit sampai mereka terpaksa kembali ke negara asal tanpa membawa hasil serta kehilangan banyak tentara dan aparat.

Hasrat Kublai Khan untuk memperluas daerah kekuasaan dengan menaklukkan nusantara terpaksa batal karena dia akhirnya mangkat. Penerusnya yang tidak kompeten membuat pondasi goyah dan suku Han merebut kembali kekuasaan dengan mendirikan dinasti Ming yang terkenal dengan seni dan keramik tanah liat. Marco Polo kemudian menerbitkan buku perjalanannya selama di daratan China dan menjadi bacaan Christopher Colombus ketika dia menjelajah ke arah barat. Colombus bermaksud menemukan jalan lain ke China dan ingin bertemu dengan keturunan Kublai Khan, tanpa mengetahui kalau kerajaan yang pernah berdiri sedemikian besar sudah runtuh dan tamat.

Melihat film dokumentari tentang perjalanan kekuasaan Genghis Khan, seolah-olah saya melihat cerita tentang Yajuj dan Makjuj sang pembuat onar dan kerusakan di atas dunia memang benar adanya. Dia berhasil menyatukan penduduk nomaden yang tidak berpendidikan di daratan Asia Tengah untuk menjadi pasukan tentara yang sangat menakutkan dan haus darah. Mereka membunuh semua yang berada di depan jalan tanpa pandang bulu, termasuk wanita, anak-anak dan orangtua renta. Kota yang mereka kuasai akan dirampok dan dijarah habis-habisan serta dirusak dan dibakar sehingga rata dengan tanah.

Sistem pengairan mereka rusak tanpa bisa digunakan lagi yang membuat kekeringan sebagai dampak yang tidak bisa dihindari. Diperkirakan ada sekitar 60 juta nyawa melayang sia-sia, sebagian besar karena bencana kelaparan yang kemudian timbul mengikuti. Rombongan tentara Mongol bagaikan malaikat maut yang berjalan dengan hanya meninggalkan kesengsaraan dan misery. Genghis Khan tidak pernah memikirkan tentang kesejahteraan rakyat yang ada, dia hanya ingin memperluas daerah kekuasaan demi sekedar memuaskan ambisi.

Saya bergidik dan berseru tertahan ketika mereka membakar perpustakaan besar yang ada di kota-kota kuno yang terkenal seperti Bukhara dan Samarkand. Ratusan ribu buku-buku berisi ilmu pengetahuan yang berusia ratusan atau ribuan tahun musnah terbakar tanpa bersisa yang bagi mereka memang tidak ada artinya sebab mereka memang tidak berpendidikan. Tidak ada bukti bangunan yang menakjubkan atau cerita tentang kota yang makmur yang telah mereka bangun dan tinggalkan, Mongolia kini hanyalah negara tertinggal yang penduduknya kebanyakan hidup di tenda-tenda di tengah hamparan padang luas kembali seperti jaman nenek moyang. Untuk sebuah legenda sebagai kekaisaran terbesar yang pernah ada di dunia, Mongol Empire ternyata tidak meninggalkan apa-apa yang berarti bagi dunia dan kemanusiaan.

 

Tabik.

B. Uster Kadrisson