Home > Lain-lain > Ravana..

..but I, with rude hands will not touch,
The lady whom I love so much..

(Kutipan dari Ravana Kaaviyam, karangan Pulavar Kuzhantai, 1906-1972)

..

Detik-detik terakhir sebelum panah emas milik Rama menghunus jantungnya, Ravana sekelibat melihat sosok dewa Vishnu yang tersenyum di latar belakang sang pemuda. Wajah yang selalu dia rindukan karena di kehidupan yang sebelumnya dia menjadi pengawal istana milik sang dewa. Bersama dengan adiknya, Kumbhakarna, mereka adalah titisan yang kedua kali dari pasangan yang dikutuk oleh para Kumara yaitu Jaya dan Wijaya. Sehingga kematian di tangan Rama yang tidak lain merupakan titisan dewa Vishnu adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang tiada tara.

Alkisah, suatu hari empat putra dewa Brahma datang bertandang ke Vaikuntha yaitu kediaman resmi dewa Vishnu di swargaloka. Karena mereka merupakan para ahli ibadah yang sangat tangguh sehingga wajah dan penampakan mereka tampak sangat muda bagaikan anak-anak saja. Kedua penjaga pintu yang bernama Jaya dan Vijaya tidak memperbolehkan mereka masuk karena Vishnu sedang beristirahat dan tidak menerima tamu tanpa ada perjanjian sebelumnya. Karena merasa disepelekan, mereka kemudian mengutuk kedua penjaga untuk kehilangan kehidupan abadi dan akan menderita sebagai manusia di dunia.

Vishnu yang mendengar pertengkaran, akhirnya keluar untuk melerai, tetapi kutukan telah terucap sehingga tidak bisa ditarik kembali. Kepada kedua penjaga gerbang yang sangat setia, Vishnu kemudian memberikan dua pilihan apakah ingin mengalami 7 kali siklus kehidupan sebagai orang yang taat beribadah atau 3 kali sebagai musuhnya yang harus mati di tangannya sendiri. Jaya dan Vijaya kemudian memilih alternatif yang kedua, karena mereka tidak akan sanggup berpisah terlalu lama dari dewa yang mereka puja dan puji. Selain itu mereka akan mempunyai kesempatan untuk bersua dengan idolanya kembali walaupun mereka harus mati karena titisan Vishnu yang nanti akan menjadi pengeksekusi.

Ravana terlahir dari pasangan pendeta Vishrava dan putri Kaikhesi, yang merupakan anak dari raja Sumali yang bertakhta di Lanka, daerah seberang lautan di selatan dari daratan India. Mereka merupakan keturunan etnik Dravidian yang berkulit gelap dan berbadan tegap dan besar sehingga sering dikatakan sebagai keturunan raksasa. Ravana beserta adik-adiknya, Kumbhakarna dan Vibhishana mendapat didikan langsung dibawah pengawasan ayahnya yang membuat dia ahli dalam membahas kitab Veda. Ravana sangat pandai dan mempunyai banyak keahlian sehingga kerap secara berseloroh saudara-saudaranya mengolok-olok dengan mengatakan kalau dia seperti mempunyai sepuluh kepala.

Ravana mempunyai saudara lain ibu yang bernama Kubera, yang nanti menjadi musuhnya karena mengambil takhta peninggalan kakeknya yang secara garis keturunan merupakan haknya. Kedua adik laki-lakinya selalu memujanya, Kumbhakarna akan mengikuti apa saja yang menjadi perintahnya sedangkan Vibhishana masih mengedepankan berbagai pertimbangan serta logika. Sedang adik perempuannya yaitu Shurpanakha, merupakan kesayangan seluruh keluarga, dia termasuk cantik dengan kulit yang gelap gemerlapan bagaikan tembaga. Suaminya mati mendadak dalam usia perkawinan yang sangat singkat yang secara tidak sengaja terbunuh oleh Ravana, sehingga membuat dia kemudian menjadi seorang janda.

Ravana sangat menyesalkan kejadian tersebut dan meminta Shurpanakha untuk mencari suami lain yang berkenan di hatinya. Dalam sebuah perjalanan Shurpanakha berserobok dengan rombongan Rama yang sedang dalam pengungsian dan ketika melihat sosok Rama seketika dia jatuh cinta. Rama sebenarnya juga suka tetapi sayang dia telah menikah dan menyarankan supaya Shurpanakha meminang adiknya, Lakshmana. Tetapi Lakshmana menolak lamaran Shurpanakha dengan alasan kalau dia sudah berjanji untuk mengabdikan hidupnya sebagai pelayan sang kanda.

Merasa dilecehkan, Shurpanakha melaporkan perihal perbuatan kedua bersaudara tersebut kepada Ravana yang kemudian turun tangan untuk menyelesaikan duduk perkara. Tetapi, Ravana sendiri ternyata tertusuk panah asmara, ketika dia melihat Sita sejak saat pandangan pertama. Timbul hasrat yang menggebu-gebu dan keinginan untuk memiliki serta menjadikannya sebagai permaisuri utama. Siasat segera disusun dan segala macam cara akan dilakukan untuk supaya bisa memboyong sang titisan dewi surga ke daratan Lanka.

Dengan menipu Rama dan Lakshmana sehingga meninggalkan Sita sendirian, Ravana akhirnya berhasil membawanya pergi dengan kereta terbang Vimana. Sita ditempatkan di taman Asokha yang indah, tanpa penjagaan yang ketat dan membuat supaya dia nyaman seperti layaknya berada di rumah. Dan setiap hari Ravana mengunjunginya hanya sekedar untuk bisa menatap cantik dan anggunnya sang wajah. Awalnya Sita menolak untuk berbicara, tetapi pengetahuan Ravana yang luas dan lantunan suaranya yang menarik saat membaca Veda, membuat Sita akhirnya mau membuka suara.

Tiga tahun berlalu sudah, Sita masih menyimpan harapan yang tinggi kalau suatu hari nanti Rama akan datang menjemputnya. Tetapi setelah semakin lama menanti, datang juga kegelisahan di dalam hati dan hari demi hari berlalu tanpa ada kabar berita. Sementara itu sang penyekap yang sama sekali tidak pernah berusaha untuk menjamah atau menodainya dan malah melimpahinya dengan berbagai keindahan yang tiada tara. Dari yang tadinya digeluti oleh rasa benci tak terperi kemudian timbul sebercik rasa hormat karena kesabaran yang tulus yang diperlihatkan oleh Ravana.

Kisah berlanjut, ketika akhirnya datang juga rombongan bala tentara yang cukup besar yang dipimpin langsung oleh Rama dan Lakshmana. Mereka adalah orang-orang rimba dari etnik Vanara yang hidup di tepi selatan daratan India yang mempunyai kemampuan bergelantungan bagaikan kera. Dengan dipimpin oleh Hanuman, mereka membakar istana dan juga taman Asokha di mana Sita selama itu berada. Vibishana memihak kepada Rama karena menurutnya Ravana telah keluar dari jalur, memaksa untuk memiliki seseorang yang sudah ada yang punya.

Pertarungan antara kedua sosok yang bertikai akhirnya tidak terelakkan lagi, dan seperti janji dewa Wishnu kepada Jaya dan Wijaya, Ravana dan Kumbhakarna tahu kalau mereka memang harus mati. Ravana maju ke medan laga dengan senyum tersungging, rasanya gagah kalau nyawa harus melayang demi memperebutkan seorang kekasih hati. Biarlah orang berbicara sesukanya, biarlah legenda menuliskannya sebagai seorang tokoh yang maha nista yang harus dibenci. Tetapi Ravana tahu, kalau seandainya waktu bisa digenggamnya sedikit lagi, dia yakin Sita bisa berpaling,.. dan dugaannya memang tepat karena nanti Sita kehilangan kepercayaan terhadap Rama yang telah meragukan kesucian diri.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan referensi :
Ramayana from Udaipur, Sahib Din, 1652, British Library Board.
Ravana the Great, King of Lanka, M.S. Purnalingam Pillai, 1928, The Biblioteca, Munnirpalam, Tinnevely Dist.
Ravana Kaaviyam, Pulavar Kuzhantai, 1946.