Home > Lain-lain > Vega dan Altair..

 

Vega adalah seorang gadis cantik, putri dari seorang dewa penguasa langit yang sangat pintar menenun. Hasil karyanya yang indah bisa terlihat berupa lengkungan aneka warna pelangi di saat sehabis hujan turun. Atau semburat warna jingga keemasan yang tampak di saat senja ketika matahari bersembunyi untuk beristirahat di balik perbukitan dan gunung-gunung. Juga ketika warna biru yang cerah dengan gurat-gurat putih awan di langit luas yang tanpa ada warna gelap yang menggantung.

Sedang Altair, seorang pemuda tampan yang hidup di bumi dengan mengembalakan ternak di alam terbuka. Sering dia berbaring di lapangan luas dan menatap ke langit, sembari menikmati hasil karya yang maha indah. Warna warna menawan yang bermain di cakrawala, sejak dini hari dari mulai membuka mata. Kadang seakan-akan dia melihat seraut wajah ayu yang juga memandang kebawah, ah.. pastilah pandangan matanya yang telah keliru karena terkena bias cahaya.

Ternyata dugaannya salah, Vega juga sudah lama memperhatikan Altair, walaupun tanpa disadari sama sekali oleh sang jejaka. Vega suka melihat senyuman yang kadang tersungging di bibir ketika dia sedang menenun sesuatu yang jenaka. Awan putih yang bagaikan perahu berlayar tanpa nahkoda saling berkejaran dengan serombongan burung dan angsa. Atau ketika seekor gajah tiba-tiba muncul di tengah untuk melerai pertikaian yang terjadi antara macan dan singa.

Suatu hari, Vega akhirnya memberanikan diri untuk turun ke bumi dan pergi menemui Altair. Pucuk yang dicinta, ternyata keduanya saling terpesona dan kemudian berikrar kalau kasih mereka tidak akan pernah berakhir. Vega telah berjanji akan membawa Altair ke istana langit untuk hidup bersama dalam masa senang dan getir. Tetapi apa lacur, sang ayahanda dewa langit tidak merestui, tidak sudi kalau putri semata wayang menikah dengan pemuda bumi yang tidak jelas asal usul garis lahir.

Tetapi janji sudah diucapkan, bumi dan seluruh jagad raya sudah bersaksi, tidak bisa untuk ditarik kembali dan dibatalkan. Dalam kemarahannya, dewa langit kemudian mengabulkan janji sang putri dan mengangkat sang jejaka ke langit yang ke enam. Dia pisahkan letak mereka berdua yang terhalang oleh sungai bimasakti yang sangat luas dan maha dalam. Ah.. kisah asmara sejati selalu terasa pilu menghujam dan menyayat begitu kejam.

Derita yang dirasakan oleh Vega membuat dia kemudian berhenti menenun dan menjadi seorang pemurung yang menyebabkan langit selalu digayut oleh awan mendung. Kekasih hati sudah terasa dekat tetapi tangan tak bisa mencapai terhalang gelombang sungai yang maha dahsyat serta sangat dalam berpalung-palung. Tangisan dan ratapan Vega yang menggema ke seluruh penjuru angkasa akhirnya terdengar oleh sekawanan burung. Hanya ada sekali dalam setahun kedua sejoli ini akhirnya bisa bertemu yang dibantu oleh rentangan sayap sekelompok angsa-angsa untuk menjadi jembatan penyeberang dari ujung ke ujung.

..

Jika melihat ke langit di belahan bumi bagian utara pada saat musim panas, ada tiga bintang yang sangat terang dan jelas terlihat. Bintang Vega dan Altair (bahasa Arab, artinya elang) yang dipisahkan oleh gugusan bimasakti yang bagaikan sungai lebar yang mengalir keruh dan pekat. Sebuah bintang lagi yang merupakan ujung dari konstelasi Cygnus (Swan, angsa) menjadi bintang ketiga yang membentuk Summer Triangle, yaitu bintang Deneb yang artinya ekor dalam bahasa Arab. Mythologi Vega dan Altair ini merupakan adaptasi dari kisah rakyat Jepang dan sampai sekarang di sana masih diperingati sekitar bulan Juli-Agustus dengan festival Tanabata oleh masyarakat.

Tabik.

B. Uster Kadrisson