Home > Lain-lain > Jauhar..

Nafsu adalah keinginan yang tak pernah terpuaskan, akan selalu ada,
Tetapi dunia fana ini tidak nyata dan hanya sementara,
Manusia akan terus memiliki nafsu bagaikan orang yang dahaga,
Hingga hidupnya berakhir dan dia mencapai ke alam baka..            (Alauddin in Padmavat, Malik Muhammad Jayasi, 1450)

..

Saya bergidik melihat adegan Jauhar yang digambarkan dengan sangat indah di dalam film ‘Padmaavat’ karya Sanjay Leela Bhansali. Jauhar adalah tradisi membakar diri secara massal oleh para wanita-wanita Rajput di India bagian utara ketika kekalahan dalam peperangan sudah nyata dan sudah tidak bisa terelakkan lagi. Sementara para pria melakukan saka yaitu bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan, dengan prinsip dari pada terjajah lebih baik mati. Sedang para wanita beserta anak-anak mempersiapkan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kayu bakar dan siap sedia untuk menyalakan api.

Catatan tentang Jauhar yang direkam oleh seorang ahli sejarah Muslim terjadi pada tahun 1303 di benteng Chittorgarh, Rajastan. Saat itu mereka mendapat serbuan dari kesultanan Delhi yang dipimpin oleh Alauddin Khilji yang digambarkan memang sangat kejam. Dia naik menjadi pimpinan sebuah kerajaan Islam yang berasal dari Afghanistan dengan menikahi seorang sepupu dan membunuh sang paman. Kisah penaklukan tanah Hindustan dan peristiwa Jauhar ini kemudian menjadi inspirasi bagi seorang penyair, Malik Muhammad Jayasi untuk membuat sebuah karya puisi epik Padmaavat yang berkisah tentang seorang ratu yang karena kecantikannya menjadi penyebab terjadinya peperangan.

Padmavati adalah putri kerajaan Singhal, Sri Langka yang diboyong menjadi ratu Chittorgarh ketika menikah dengan Raja Ratan Singh. Seorang kepala pendeta kedapatan mengintip pasangan kerajaan ketika sedang bermesraan, yang mengakibatkan dia dibuang tanpa bisa kembali untuk berpaling. Dendam yang membara membawanya menghadap Sultan Alauddin Khilji dengan mengabarkan tentang kecantikan sang ratu yang tidak ada satupun yang bisa bersaing. Sehingga membuat Alauddin ingin memiliki dan berhasrat akan menjadikannya sebagai pendamping untuk duduk bersanding.

Sultan Alauddin datang dengan rombongan tentara yang bermaksud hendak menaklukkan Chittorgarh tetapi benteng pertahanan mereka terlampau tangguh. Enam bulan lamanya terjadi pengepungan tanpa hasil, Alauddin semakin bernafsu dan berusaha untuk melihat secara langsung kecantikan sang Ratu. Akhirnya dia bisa menahan Raja Ratan Singh dengan alasan undangan silaturahmi yang penuh dengan kelicikan serta tipu. Padmavati dengan taktik yang brilliant kemudian bisa berhasil membebaskan sang Raja dari cengkeraman kuku.

Sultan Alauddin dengan kemarahan yang sangat kembali datang menyerang Chittorgarh dengan bala tentara yang lebih lengkap. Karena menghormati hukum peperangan, Raja Ratan Singh berani menghadapinya seorang diri dalam pertandingan perorangan secara kombat. Kadang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria terasa tidak berarti ketika sedang berhadapan dengan seorang bangsat yang memang keparat. Berkali-kali Ratan Singh menolak untuk membunuh Alauddin ketika ada kesempatan hanya karena dia tidak bersenjata, padahal Alauddin tidak segan untuk membunuhnya dari belakang dengan anak panah yang berkarat.

Kabar kematian Ratan Singh dan pertempuran yang tidak seimbang, disambut oleh para wanita-wanita Chittorgarh yang sudah mengenakan pakaian terbaik mereka. Tubuh-tubuh yang dibalut oleh kain sari sutra berwarna merah dengan hiasan emas dan permata yang berjuntai di telinga dan memenuhi seluruh dada. Kayu api sudah dinyalakan, berbondong-bondong mereka dipimpin oleh sang Ratu berjalan menuju kobaran api dengan senyum yang tersungging di wajah. Alauddin berlari mengejar untuk mencegah, tetapi pintu gerbang tertutup tepat di depan mata dan dia hanya bisa menyaksikan dari celah-celah, sebuah peristiwa pembakaran massal dari para perempuan yang tidak rela untuk dijamah.

Walaupun Sultan Alauddin Khilji dan Raja Ratan Singh memang tercatat di dalam sejarah, tetapi Ratu Padmavati sendiri masih sebuah tanda tanya yang diperkirakan merupakan seorang tokoh fiksi. Sedemikianpun banyak kalangan yang protes saat pembuatan film ini, kaum Rajput menolak karena penggambaran sang Ratu yang tidak sesuai dan kaum Muslim menolak karakter Alauddin yang dilukiskan sebagai seseorang yang sangat keji. Padahal dalam catatan sejarahnya, Sultan Alauddin memang terkenal sangat brutal yang membawa nama Islam hanya dalam bentuk bendera dan panji-panji. Sampai sekarangpun kita masih bisa melihat kekejaman para tentara yang berlindung di balik nama Allah seperti Isis dan Boko Haram, yang membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan memperkosa para wanita ketika mereka telah menguasai.

Tabik.

B. Uster Kadrisson