Home > Lain-lain > In The Heights..

Queres que decirte un sueñito..?
(Maukah kau kuceritakan tentang sebuah impian..?)                    —-  In The Heights

..

Sebuah film yang bercorak musical baru saja beredar di Amerika dan seluruh dunia, dengan jadwal peredaran yang sempat tertunda selama beberapa saat karena adanya wabah. Berjudul ‘In the Heights’ yang bercerita tentang kehidupan kaum latino di enclave yang berada di ujung utara pulau Manhattan, New York yang kebanyakan berasal dari negara-negara di kepulauan Caribia. Seorang pemuda yang bernama Usnavi menjadi tokoh sentral cerita berasal dari Dominican Republic yang tinggal bersama seorang nenek angkat yang lahir di Cuba. Sedang sang dara cantik yang menjadi incaran dan bekerja di beauty salon berasal dari Puerto Rico, the great land yang juga dikenal dengan nama lain Boricua.

Sang tokoh utama mempunyai nama yang unik, yang menurutnya berasal dari sebuah tulisan di kapal yang terlihat pertama sekali oleh sang ayah ketika saat dahulu mereka datang. Kapal besar yang tengah berlayar menuju pelabuhan New York, melintas di bawah patung Lady Liberty yang menaungi dengan bayang-bayang. Yang ternyata bukan merupakan sebuah kapal yang biasa-biasa saja melainkan sebuah kapal militer untuk berperang. Tulisan yang seharusnya US Navy, yang berarti angkatan laut Amerika tetapi dibaca dengan lidah Spanyol menjadi Usnavi, memberikan nama yang sangat orisinil tiada terbilang.

Usnavi mewarisi sebuah toko kelontong milik sang ayah yang dikelolanya bersama seorang sepupu yang masih bocah beranjak remaja. Dia bermimpi untuk kembali ke tanah kelahiran, untuk mempunyai sebuah kedai minuman di pinggir pantai yang indah. Kisah bercerita tentang tiga hari di musim panas pada suatu ketika, saat listrik di kota New York tiba-tiba padam tanpa tahu apa sebabnya. Ada kisah ceria, jatuh cinta, berita duka yang semuanya bercampur aduk dan dipandu dengan lagu-lagu yang mengajak penonton untuk berdansa.

In The Heights diangkat berdasarkan pertunjukan Broadway yang pernah ada sekitar 14 tahun yang silam. Buah karya Lin-Manuel Miranda ini cukup mendapat sambutan dan melakukan pentas selama hampir sepuluh tahunan. Dia sendiri tampil di film sebagai penjual es serut dorongan yang disebut piraguas, sama seperti saat saya kecil dulu di mana es batu yang diserut dan diberi aneka syrup Marjan. Beberapa dari pemeran di dalam film merupakan alumni dari pertunjukan di Broadway dan mereka bernyanyi dengan suara asli tanpa dubbing suara rekaman.

Menonton film ini membawa angan-angan saya kembali melayang ke tahun-tahun saat pertama sekali menginjakkan kaki di kota New York metropolitan. Jembatan di daerah yang bernama Washington Heights sebagai latar belakang, jalanan yang dipenuhi oleh toko-toko usaha menengah milik kaum pendatang merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak pernah terlupakan. Mendaki tangga batu yang tinggi di antara bangunan apartment, atau turun di stasiun kereta yang merupakan sebuah lorong yang penuh dengan hiasan grafiti yang panjang. Suara petasan yang acap terdengar serta senandung musik salsa, merengue yang mengalun dari jendela yang terbuka, ya.. saya pernah tinggal di daerah ini selama beberapa musim, semua terekam indah di dalam kenangan.

Seperti juga adegan yang ada di dalam film, saat-saat pada musim panas, oala mak jang.. banyak terlihat kulit yang mulus tanpa banyak halangan. Gadis-gadis cantik memakai baju yang super minim seperti pakaian yang kurang bahan, tinggal terlihat seperti hanya mengenakan celana dalam dan kutang. Yang hebatnya, kadar pede mereka dua ratus persen kali lipat, tidak perduli apapun bentuk badan, dengan memakai baju yang sangat ketat sehingga semua bagian tubuh berdesak-desakan seperti hendak keluar dari rumah tahanan. Yang laki-laki juga sama saja, dengan celana pendek yang kedodoran, singlet atau baju yang disampirkan di bahu, memamerkan dada berotot yang telanjang.

Satu yang tidak diceritakan di dalam film ini, bagaimana kaum ini biasanya selalu terbelit dengan penggunaan berbagai macam obat-obatan terlarang. Pemilik apartment yang kamarnya dulu saya tempati, laki bini sering mabuk berdua sampai tidak sadarkan diri dan anaknya meraung-raung menjerit kelaparan. Tetangga di lantai bawah, tampak tidak pernah pergi bekerja tetapi hidup makmur dengan bergonta ganti mobil dan sebuah layar tv super jumbo terpampang di tengah-tengah ruangan. Seorang teman sekerja terus terang mengakui kalau semua anggota keluarga pacarnya dan juga termasuk dia sudah lama menjadi agen narkotika, dan mereka menganggap itu merupakan pekerjaan biasa yang banyak dan cepat menghasilkan uang.

Koreografi tertata dengan indah, disertai hentakan langkah-langkah serentak yang tanpa terasa membawa kaki bergoyang ingin serta turut berdansa. Yang paling menakjubkan adalah adegan ketika dua pasang insan yang sedang dimabuk asmara yang menari di antara dinding-dinding gedung yang terjungkir balik dengan pemandangan Washington Bridge sebagai latar di saat temaram senja. Usahakan jangan berkedip saat tempo musik mulai meningkat karena tarian mereka sangat cepat mempesona dan mengundang gairah. Apalagi adegan rancak di kolam renang saat semua saling menduga-duga siapa kiranya yang menjadi pemenang lotere, dengan ratusan gadis berpakaian bikini, rasanya ingin kembali menonton untuk adegan yang itu saja.

Tabik.

B. Uster Kadrisson