Home > Lain-lain > Ande Ande Lumut..

Putraku si Ande, Ande Ande Lumut,
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi..
——————Ande Ande Lumut, Waljinah

..
Medang Kahuripan,1049..

Resi Gentayu perlahan menghela nafas panjang, beliau sudah merasakan sisa-sisa usia yang tinggal tak seberapa lama lagi dan tanpa terasa bulir air mengambang di sudut kelopak mata. 4 tahun yang lalu, putri mahkota Sangramawijaya menolak untuk naik takhta dan lebih memilih panggilan hati nurani untuk menjadi bhiksuni, yang membuat kedua adik tirinya Panjalu dan Janggala saling sikut untuk bisa menjadi penerus selanjutnya. Sering terjadi perkelahian demi perkelahian di antara kedua pendukung mereka yang berujung kehilangan nyawa, semakin membuat gundah hati sang Paduka yang akhirnya memutuskan untuk membagi wilayah sama rata. Sebelum menutup mata, Resi Gentayu yang dahulu bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Airlangga kemudian bertitah, suatu hari nanti dia akan kembali menyatukan negeri yang telah terbelah.

Desa Dhadhapan, 1130an..

Panji Asmarabangun, seorang pemuda yang sangat elok rupawan sedang termenung di tepi sungai Brantas, di perbatasan kerajaan Panjalu dan Janggala. Sungai lebar yang berair sangat deras dengan riak yang menggelegar, bagaikan gelisah hatinya yang telah sekian lama mengembara. Demi mencari kekasih hati Dewi Sekartaji, yang menurut keterangan ibu tirinya telah pergi dari istana, kabarnya hilang ingatan kemungkinan terkena guna-guna. Betapa memuakkan ketika tanpa banyak basa basi sang ratu bupati* kemudian menyodorkan putri semata wayangnya sebagai pengganti untuk dipersunting oleh sang putra mahkota.

Dia telah minta ijin kepada ayahanda paduka untuk berkelana mencari sang putri, yang telah membuatnya jatuh hati sejak pandangan pertama. Dua puluh purnama waktu yang diberi, setiap sudut wilayah sudah dijelajahi tetapi jejak yang samar masih juga belum ada yang teraba. Rasanya mustahil kalau dia raib begitu saja bagaikan di telan bumi, yang dia tahu Sang Hyang Widhi Wasa pasti sedang menguji kekuatan cinta mereka. Entah gerangan nasib apa yang membawanya ke desa ini, tetapi degub jantung berbicara lain sepertinya mengisyaratkan kalau yang dicari selama ini akan ada di sana.

Tiba-tiba dirinya tersentak ketika mendengar sebuah jeritan dan terlihat seorang perempuan tua didorong dengan kasar oleh sang pemilik perahu yang menjadi sarana penyeberangan. Tampaknya karena dia tidak membayar uang sewa yang cukup, hampir terjatuh dari dermaga karena berat beban yang tengah disandang. Panji berlari secepatnya untuk menolong, sang perempuan tua bisa terselamatkan tapi dia sendiri tergelincir karena bebatuan di pinggir sungai yang licin ditutupi oleh sejenis lumut yang kehijauan. Seluruh tubuh dan pakaiannya menjadi hijau kecoklatan dibaluti oleh tumbuhan tersebut, sedang pemilik perahu yang berbadan besar dan berwajah merah bagaikan kepiting rebus tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian sambil mendayung perahu menjauh ke seberang.

Mbok Rondho menawarkan agar Panji bersedia untuk tinggal bersamanya sementara memperbaiki pakaiannya yang rusak dan jika tidak ada mempunyai tempat untuk bermalam. Panji menerima dengan senang hati, karena entah kenapa firasatnya terasa sangat seperti ada sepercik cahaya di ujung lorong nan kelam. Rasanya dia memang butuh untuk istirahat sejenak dari perjalanan yang panjang, mungkin bisa membantu mbok Rondho yang miskin sebatangkara yang menghidupi diri dari sebidang tanah yang dipakai untuk bercocok tanam. Sejak peristiwa pertemuan mereka di dermaga, mbok Rondho memberikannya nama Ande Ande Lumut sebagai panggilan tanda kasih sayang.

..

Sementara itu di seberang sungai lebih ke hulu, Nyi Rondho Klething seorang janda kaya sedang sibuk mengurus dan memberi perintah kepada para ajudan yang mengurusi sawah beserta ladang. Sejak kematian mendadak suami ketiganya, harta kekayaannya semakin menumpuk, tak perlu risau dengan keadaan dan persetan apa kata orang. Ditemani oleh tiga putrinya yang cantik-cantik yang masing-masing mempunyai tabiat yang berlainan karena mereka memang berasal dan berbeda keturunan. Tetapi sejak hampir dua tahun belakangan, keluarganya semakin membesar dengan ditambah oleh seorang putri lagi yang dia temui sedang berjalan tak tentu arah di tepi sungai, sepertinya telah kehilangan ingatan.

Walaupun Nyi Rondho Klething mempunyai tiga putri yang cantik jelita, yaitu Klething Abang, Klething Ijo dan Klething Biru, tetapi pesona putri angkatnya terlihat sangat berbeda. Diberi nama Klething Kuning sesuai dengan warna kulitnya yang seperti gading, walaupun terbalut pakaian yang sangat sederhana tetapi aura keningratan terpancar jelas di seluruh wajah. Tidak pernah menolak dan membantah, selalu taat menuruti perintah, yang membuat Nyi Rondho Klething menjadi sering bertanya-tanya tentang siapa gerangan sang dara. Acap dia mendapatkan Klething Kuning menatap nanar ke angkasa, mungkin sedang berdoa mengharapkan ingatan dipulihkan supaya bisa mengenal kembali sanak saudara.

Berita tentang mbok Rondho Dhadhapan yang mempunyai putra cakap perkasa segera menyebar ke seluruh penjuru desa. Bisik-bisik di antara tetangga mengatakan kalau dia mungkin seorang pangeran yang sedang menyamar mencari wanita untuk dipersunting sebagai istrinya. Tak terkecuali dengan keluarga Nyi Rondho Klething, yang sudah sibuk berdandan rapi untuk bertandang mencari kebenaran akan rahasia. Klething Kuning menolak untuk turut serta karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya.

Dalam perjalanan menuju tepian sungai untuk mencuci, Klething Kuning melihat seekor bangau Tongtong yang tersangkut jeratan perangkap yang dipasang oleh para penangkar. Seketika dia membebaskan sang burung malang yang anehnya tidak langsung terbang, seperti menunduk mengucapkan syukur atas rasa welas asih yang besar. Dari sela cengkeram kakinya sang bangau menjepit sebilah besi berupa pisau panjang yang bergagang emas dengan batu permata yang berpendar. Klething Kuning terperanjat seperti mendapatkan telepati yang berkata ‘pergilah ke seberang sungai, kau akan mendapatkan jawaban yang benar’.

Rombongan Nyi Rondho Klething berhenti di tepi sungai menunggu datang perahu penyeberang yang telah biasa mereka gunakan. Tetapi kali ini sang pemilik perahu menolak untuk menyeberangkan karena telah mendengar kabar tentang maksud para gadis-gadis untuk pergi melamar sang pangeran. Tubuhnya yang besar dengan kulit yang memerah terbakar matahari serta tabiat pemarah, membuat orang-orang dibelakang punggung menggelarinya sebagai si kepiting rebus atau Yuyu Panggang. Kini dia ingin membuat malu seisi desa, dengan niat untuk membalaskan dendam dan akan memanfaatkan segala macam kesempatan.

Si kepiting rebus bersedia untuk menyeberangkan tetapi dengan syarat harus satu persatu disertai permintaan khusus saat nanti telah berada di atas sampan. Tanpa berpikir lebih panjang, para gadis menyetujui dan bergiliran mereka menaiki perahu untuk dibawa sampai ke seberang. Ternyata ketika berada di tengah sungai Yuyu Panggang memaksa untuk mencumbu mereka dengan ancaman akan dicampakkan ke arus sungai yang deras jika menolak permintaan. Satu demi satu para gadis yang telah sampai diseberang, tampak pucat dan terdiam tanpa bersuara serta tidak berani untuk mengatakan.

Klething Kuning sampai di tepi dermaga saat waktu menjelang petang dan menjumpai sang pemilik perahu yang sedang tersenyum puas. Tanpa menyatakan syarat seperti sebelumnya, si kepiting rebus mempersilahkan Klething Kuning menaiki, dan ketika telah melewati pertengahan sungai meminta imbalan untuk mencumbu sebagaimana penumpang-penumpang yang sudah lawas. Klething Kuning menolak dan ketika Yuyu Panggang memaksa, sebilah belati pemberian sang bangau Tongtong dikeluarkan dari lipatan kain dan dihujamkan ke dada sang preman hingga tewas. Dengan penuh rasa cemas, ketika perahu akhirnya merapat di dermaga kayu, Klething Kuning segera melompat turun dan pergi bergegas.

Di depan rumah mbok Rondho Dhadhapan telah ramai orang berkumpul, gadis-gadis berhiaskan pakaian terbaik ditemani oleh keluarga mereka, mengharapkan bisa dipilih oleh Ande Ande Lumut alias Panji Asmarabangun. Sedangkan sang pangeran masih bertengger terduduk di atas atap rumah melihat ke kejauhan, sementara ibu angkatnya telah berulang-ulang menyuruhnya untuk segera turun. Ketika melihat Klething kuning berlari mendekat, darahnya berdesir kencang sama seperti dahulu saat pandangan mata mereka bertemu yang mengisyaratkan kalau inilah belahan jiwa yang teranggun. Segera dia melompat turun dan menghampiri Klething Kuning yang mendadak berhenti karena terkejut melihat sesosok wajah yang selama ini ada di dalam mimpi tetapi selalu samar tertutup awan yang mendung.

Panji Asmarabangun memboyong Klething Kuning ke ibukota kerajaan di Daha beserta mbok Rondho yang tidak perlu lagi bersusah payah dalam menghabiskan hari tua. Keluarga Nyi Rondho Klething mendapatkan tempat yang istimewa karena tanpa bantuan keluarga ini kekasih hatinya sudah pasti akan terlunta-lunta. Sejarah mencatat, tahun 1136 kerajaan Panjalu dan Jenggala bersatu menjadi Kadiri karena perkawinan kedua putra putri mahkota kerajaan, satu tahun setelah Panji Asmarabangun naik takhta. Dia akan memerintah sebagai raja yang sangat bijaksana selama 44 tahun, membawa tanah Jawa ke dalam era keemasan dan meninggalkan banyak petuah sebagai petunjuk bagi anak bangsa, dengan bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan :
Lukisan courtesy Budi Soetrisno.

^Putraku, si Ande Ande Lumut, turunlah ada seorang putri yang mau bertemu..

*Ratu bupati atau Queen Regent adalah ratu (biasanya ibu kandung raja) yang memegang kekuasaan untuk sementara karena sang raja belum cukup umur.

Tumbuhan Selaginella doederleinii memiliki daun yang unik seperti rumput laut, disebut juga cakar ayam, ambon mosses atau juga tanaman ande-ande lumut. Banyak tumbuh di pinggir sungai di daerah Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Leptoptilos javanivus atau bangau Tongtong adalah kelas aves dengan bentuk kepala yang unik seperti botak. Hidup di kali Brantas, Solo dan Segara Anakan, Cilacap.