Home > Lain-lain > House of David..

Now I’ve heard there was a secret chord
That David played, and it pleased the Lord
But you don’t really care for music, do you?

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah

Your faith was strong but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew her
————-Hallelujah, Leonard Cohen, 1984

David (Nabi Daud) sangat terperanjat ketika dua orang tiba-tiba saja muncul di dekatnya, di mihrab yang memang spesial diperuntukkan bagi dirinya semata. Dia memang sedang khusyuk bermunajat kepada Allah sehingga tidak menyadari akan kehadiran kedua sosok yang memang sangat menyerupai sepasang manusia. Mereka tampak kurang lebih serupa dengan yang lain, tetapi yang satu terlihat memakai jubah yang kelihatan sedikit lebih mewah. Sedang yang lainnya, walaupun terlihat dengan tampilan yang sangat sederhana tetapi tampak sangat bijak bersahaja.

Mereka memohon maaf karena telah berani dan lancang mengganggu sang paduka tetapi ada permasalahan yang sangat penting untuk segera ditenggarai di antara mereka berdua. Dalam keheranannya David masih berusaha untuk tampil berwibawa, setengah mencari-cari di mana gerangan perginya para pengawal penjaga istana. Karena biasanya David akan menerima pengaduan dari rakyatnya dan memutuskan pokok perkara saat berada di atas kursi singgasana. Atas berkah dan rahmat dari Yang Maha Kuasa, David dikarunia kearifan dan pengetahuan yang tiada tara dan tanpa cela.

Kedua sosok tersebut mengatakan kalau mereka berdua adalah bersaudara tetapi yang satu lebih beruntung dalam memiliki harta benda. Dia mempunyai 99 ekor domba yang elok rupa sedangkan yang seorang lagi hanya mempunyai satu ekor saja domba betina. Yang kaya mengatakan biarlah dia yang memelihara seekor domba yang dipunyai oleh sang saudara, karena dia lebih makmur dan pasti akan bisa memberi makan dan mengurus dengan seksama. Sedang yang miskin menghiba-hiba untuk memohon kebijaksanaan sang paduka raja sehingga harta satu-satunya tidak diambil dari dekapannya.

David memberikan petuah dengan sedikit nada marah kepada sosok berjubah yang merupakan orang kaya. Dia melarang untuk mengambil harta kepunyaan saudaranya dan seharusnya dia memberikan sebagian harta miliknya sebagai bentuk sedekah. Tetapi belum selesai titah diucapkan, David telah tersungkur di atas sajadah, bersujud dan menangis memohon ampun kepada Allah Yang Maha Bijaksana. Karena kini dia tahu siapa kedua sosok tersebut yang merupakan utusan khusus dari sang Maha yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran kepadanya.

Kembali terbentang di hadapannya, peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi selama beberapa pekan yang lalu, berawal dari ketidak sengajaan melihat seorang dara jelita. Suasana awal musim panas dengan angin gurun yang membuat gerah, memang terasa sedikit lebih sejuk ketika matahari sudah beranjak pergi dan senja telah tiba. Ketika David sedang melepas lelah di beranda istana, tanpa sengaja dia melihat serombongan dayang-dayang sedang bersenda gurau membasuh tubuh indah sang majikan di atas atap sebuah rumah. Sinar bulan purnama yang sedang penuh, menambah keelokan dari rupa sang dara yang tampaknya memang tidak sadar kalau ada sepasang mata lain yang sedang mengamatinya.

Sejak itu David tidak bisa menentramkan hati, selalu terbayang kembali peristiwa yang membuat jantung berdegub kencang tak terkendali. Walaupun dia sudah mempunyai beberapa orang istri, tetapi kali ini sepertinya ada cinta yang turut serta datang menghampiri. Perkawinan-perkawinan sebelumnya dengan para putri-putri bangsawan, demi untuk membentuk persekutuan alliansi dan memperpanjang tali silaturahmi. Sedang yang satu ini terasa sedikit berbeda dari yang sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah dirasakan olehnya sama sekali.

Joab, kepala pasukan tentara mengatakan kalau sang dara merupakan istri dari Uriah, seorang jenderal yang rendah hati dan disayangi oleh anak buah. Dalam sebuah perjamuan, David mengundang seluruh kepala pasukan untuk datang menghadiri bersama dengan para pasangan-pasangan mereka. Perbincangan yang singkat dengan Bathsheba yang memang cantik rupawan, semakin mengukuhkan perasaan yang terpendam untuk segera memilikinya. David kemudian memanggil Uriah, dan berterus terang tentang hasratnya dan memohon supaya Uriah sudi kiranya untuk menceraikan Bathsheba.

Uriah tidak memberikan jawaban seketika, hatinya sangat gundah dan tidak kuasa untuk menolak keinginan sang raja. Allah seketika memberikan pelajaran kepada David, dengan mengutus dua malaikat yang membawa sebuah perkara tentang ketidak adilan yang telah dilakukannya. David menyesal dan memohon ampun ke hadirat Yang Kuasa, tobatnya diterima dan memang sudah rahasia Ilahi yang telah menggariskan nasab akan anak manusia. Walaupun harus mengorbankan Uriah yang malang, ketika pikiran yang terbelah menyebabkan dia tidak konsentrasi di medan laga, yang akhirnya berakibat fatal sehingga kehilangan nyawa.

Setelah masa berkabung selesai, David kemudian mempersunting Bathsheba yang nanti akan menurunkan garis keturunan seorang raja yang arif dan bijaksana. Yaitu nabi Sulaiman Yang Agung, yang diberi kekuasaan untuk mengendalikan semua makhluk termasuk para jin yang bisa menyelam ke dalam samudra untuk mencari mutiara. Kisah cinta seperti milik kedua orangtuanya kembali terulang, ketika suatu hari nanti Sulaiman bertemu dengan Ratu Sheba yang kebetulan mempunyai nama yang sama. Dua orang hamba Tuhan yang mempunyai kekuasaan sebagai Raja di Raja, yang insha Allah selalu dilindungi dari berbagai perbuatan yang tercela.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan : Sumber : Alkitab 2 Samuel 11-12,
QS 38:17-26 Tafsir Maududi – Sayyid Abul Ala Maududi – Tafhim al-Qur’an vol II, 29-44.