Home > Lain-lain > Bagaikan Billionaire..

 

..A different city every night, oh I
I swear the world better prepare,
For when I’m a billionaire..
—– Billionaire, Travis McCoy and Bruno Mars

Saya jadi gatal untuk menulis ini gara-gara membaca tulisan mbak Nana Padmosaputro tentang sebuah ide yang brilliant untuk bekerja secara remote dari sebuah kapal pesiar. Dengan membawa semua crew on board yang siap bekerja 24 jam dan nga punya alasan untuk mangkir dengan alasan sasakan rambut yang belum benar. Kapal bisa berlabuh di mana saja di seantero dunia, mungkin untuk menentukan pelabuhan berikutnya bisa dengan cara membentangkan peta di atas meja dengan sebuah dadu yang dilempar. Saya dulu pernah melakukannya saat memilih tempat yang akan dijelajahi selanjutnya dengan menangkap potongan-potongan kertas yang melayang di udara, yang bertuliskan nama-nama kota yang saya tebar.

Membayangkan menutup mata saat tidur dan bangun pagi di tempat yang berbeda sepanjang tahun, ah.. jadi teringat lagu ‘Billionaire’ yang pernah dibawakan oleh duet Travis McCoy dan Bruno Mars. Lirik yang menuliskan ‘a different city every night’ sangat menghantui saya, sehingga pernah mencoba melakukannya untuk merasakan sensasi yang pas. Pernah saya sarapan di New York, makan siang di Los Angeles, dan bangun pagi telah berada di Hong Kong pada saat musim panas. Yang lain lagi, sarapan di Boston, makan siang di Paris dan terbangun di Istanbul dengan badan meriang dan perut mulas, karena perbedaan time zone saat melintas.

Sehingga saya sudah sempat mengurungkan niat untuk mencoba menjadi Billionaire yang berpindah-pindah kota setiap hari. Ternyata perbedaan dan perubahan waktu yang cepat secara significant akan membuat pusat sensor di tubuh menjadi bingung dan membuat tidak bisa mengontrol diri. Tetapi ide yang diberikan oleh mbak Nana membuat keinginan lama saya kembali menjadi hidup yang sebelumnya sudah mati suri. Kesalahan saya adalah berpergian dengan pesawat terbang yang menimbulkan perasaan jetlag, mungkin akan berbeda sensasi jika menggunakan kapal pesiar milik pribadi.

Selain dari pada itu gambar kapal pesiar mewah milik konglomerasi Ritz Carlton yang digunakan sebagai ilustrasi dalam tulisan membuat saya ingin berbagi sedikit pengalaman. Saya selalu merasa skeptis jika melihat gambar iklan yang indah dari sebuah kapal pesiar, hotel, resort ataupun berbagai macam bentuk penginapan. Dengan gambar yang menarik perhatian, menampilkan suasana kolam renang infinity yang seolah tanpa batas, terasa sangat tenang dan nyaman. Disertai dengan pemandangan alam yang bisa dinikmati dari tempat berbaring, di mana udara terasa sejuk dan menyegarkan.

Bukan hendak membanggakan kehidupan hedonist, tetapi kalau berpergian saya pasti memilih penginapan dengan status yang minimal memiliki kategori kelas 4 bintang. Duduk boleh di coach dengan berdesak-desakan selama 8 jam penerbangan, tetapi ketika tidur saya ingin di kasur yang empuk dan tempat tidur yang tidak berderit-derit ketika ada pergelaran pertunjukan jaran kepang. Yang pertama saya lihat saat memilih hotel lewat situs online adalah gambaran lobby yang anggun serta mewah dan menawan. Dengan harapan akan bisa duduk-duduk dengan cakep di sore hari sambil cuci mata sembari menikmati secangkir kopi panas dan membaca koran.

Ada beberapa nama-nama jaringan hotel yang selalu menjadi pilihan saya seperti Hyatt, Marriott, Ritz Carlton, Hilton atau Sheraton. Jika berbentuk resort biasanya pasti Hard Rock Hotel atau Omni yang mempunyai beberapa lokasi di Amerika dan manca negara yang harganya cukup banyak merogoh kantong. Harga hotel di Asia yang terbilang sangat murah untuk standar Amerika, membuat saya bisa menikmati sedikit kemewahan seperti bisa hampir menyewa satu lantai di Penang, karena biasanya saya membawa anggota keluarga yang berombong-rombong. Atau memesan suite di Okura Prestige, Bangkok yang bisa melihat sisi kota dari ketinggian sambil berendam atau menikmati pemandangan pelabuhan dari kamar mewah di Harbour Grand Kowloon, Hongkong.

Kolam renang adalah sesuatu yang wajib ada di dalam daftar amenities, apalagi dengan penampakan yang seperti tiada bertepi bagaikan menyatu dengan alam. Padahal terus terang saja, saya jarang sekali mengalami suasana santai yang menyenangkan seperti yang tergambar di dalam iklan-iklan. Memang jika ingin menikmati fasilitas hotel atau resort tanpa terganggu oleh orang lain, harus rela untuk bangun pagi-pagi sekali atau menggunakan lewat tengah malam. Karena kalau sudah agak siangan, biasanya selalu berisik, terlalu banyak orang apalagi dengan anak-anak yang ribut berlari kesana kemari atau menjerit-jerit tak karuan.

Saat di Fontaineblue, South Beach Miami, akhirnya saya bisa menikmati kesendirian seperti yang ada di lembaran brosur sambil menanti matahari datang. Tetapi baru saja duduk sebentar dengan secangkir kopi di tangan, saya sudah diusir oleh petugas karena kolam renang mau dibersihkan sebelum tiba waktu sarapan. Di Caribe Hilton, San Juan Puerto Rico, kepala saya terantuk-antuk oleh banyak kaleng-kaleng bir yang mengambang saat sedang berenang. Rupanya semalaman ada pool party di bar yang tepat berada di samping kolam, yang sampai pagi sampahnya belum sempat dibersihkan.

Saat liburan ke Las Vegas pada musim panas, kolam renang selalu penuh dan berisik dengan musik yang berdentam sepanjang malam. Ketika saya memutuskan untuk datang saat low season di musim dingin, sialan.. kolam renang ditutup karena sedang dalam usaha perbaikan. Untuk menghadirkan suasana yang tenang, beberapa resort membatasi pengunjung hanya untuk kalangan dewasa saja tanpa perlu direcoki oleh kehadiran anak-anak yang kadang tidak tahu aturan. Tetapi tanpa kehadiran anak-anak, di kolam renang sering terlihat adegan untuk usia lewat 17an, tetapi enaknya lewat tengah malam saya juga bisa berenang sambil telanjang.

Saya pernah punya pengalaman tinggal sendirian di sebuah pulau di Kepulauan Seribu tanpa ada siapa-siapa lagi dalam radius ribuan meter. Saat itu saya sedang survei mencari tempat untuk membawa anak-anak buah untuk pergi berliburan di akhir semester. Seorang tukang perahu di tepi pantai daerah Tangerang membawa saya ke sebuah villa yang berada di sebuah pulau kosong yang memang disewakan oleh sang master. Saya ditinggalkan di sana sendirian selama dua malam, dan disamperin oleh para nelayan yang melihat saya bermain dan berjalan-jalan di pantai tanpa busana, mungkin mereka menyangka kalau saya adalah ikan duyung yang tercecer.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan : photo Lobby Palmer House-Chicago, Okura Prestige-Bangkok, Harbour Grand Kowloon-Hongkong, Fountaineblue-South Beach Miami, Hilton Caribe-San Juan Puerto Rico.