Home > Lain-lain > Cinta tanah air..

Tanah airku tidak kulupakan,
Kan terkenang selama hidupku,
Biarpun saya pergi jauh,
Tidak kan hilang dari kalbu..
—–Tanah Airku, Ibu Sud

Saya punya dua tanah air, saya punya dua bangsa, saya punya dua negara, dan rasanya tidak elok kalau saya merendahkan yang satu dibandingkan dengan yang lainnya. Amerika yang saya adopsi sebagai tanah air kedua, memberikan saya kesempatan dan saya telah berjanji akan menjunjung dan melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dua puluh tahun lamanya saya mencari kepastian akan segala sesuatu, saya telah berkorban semuanya, tetesan keringat dan airmata. Kalaupun suatu saat nanti dengan segala keharusan dalam menjalankan kewajiban, jika Paman Sam meminta saya pergi ke garis depan untuk menjaga perbatasan, saya tetap harus bersedia.

Ada rasa yang lain, ketika berdiri tegap dengan tangan menyilang di dada saat melihat pengibaran bendera dengan puluhan bintang berkibar di udara. Ada getar yang berbeda ketika ‘Star Spangled Banner’ terdengar dilantunkan dengan iringan dentuman genderang yang membahana. Ada detak yang terasa ketika mengucapkan ‘Pledge of Allegiance’ yaitu sebuah janji setia untuk membela bendera serta negara. Ada sesuatu yang baru, ada sesuatu yang bergelora, sesuatu yang sama seperti dahulu tetapi tidak serupa.

Di lain pihak, Indonesia adalah tanah air di mana saya dilahirkan dan dibesarkan dalam dekapan serta belaian kasih sayang dari ayah dan bunda. Sebagaimana lagu-lagu yang dulu dinyanyikan dengan perasaan hampa, seperti lagu Tanah Air karya Ibu Sud, sekarang terdengar sangat berbeda di telinga. Apalagi mendengar Indonesia Pusaka atau Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki, seluruh tubuh bergetar dan bulu kuduk merinding, sesuatu yang dahulu tidak pernah saya rasa. Lirik lagu yang sangat sederhana tetapi bisa membuat jantung berdegub kencang, bahkan tanpa disadari kedua pipi telah basah.

Mungkin di saat upacara bendera pada masa-masa sekolah dahulu, menyanyikan lagu Indonesia Raya bisa sambil tertawa dan bersenda gurau bersama dengan teman. Lirik yang sebenarnya sangat sakral ini sepertinya hanya masuk dari telinga kanan dan keluar di kiri, walaupun sudah melewati otak tetapi tidak banyak meninggalkan kesan. Tidak juga ketika masa-masa penataran P4 yang banyak dicekoki dengan berbagai ajaran akan cinta tanah air dan rasa kebangsaan. Setelah berputar berkali-kali mengelilingi dunia dan hidup di lain belahan, baru saya menyadari kalau benih cinta itu ternyata sudah lama tertanam.

Tetapi orang-orang ‘Yaman coret’ yang banyak berkeliaran di bumi pertiwi, semakin hari semakin bertingkah dan sering membuat jiwa para nasionalis merasa meradang. Entah karena terbius akan paham khilafah sehingga segala sesuatu perbuatan yang mengungkapkan rasa cinta tanah air seperti hormat kepada bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, seenaknya mereka larang. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka sepertinya hasil pemikiran yang pendek, tidak sesuai dengan penampakan jenggot yang terjuntai memanjang. Atau mungkin juga kepala yang ada di bawah sorban sudah tidak lagi mempunyai otak, barangkali sudah lama digadaikan ke restoran Padang.

Padahal mereka kaum yang mengaku beragama, selalu berbahasa Arab entah itu mengucapkan tasbih atau sekedar merepet sepanjang malam dan siang. Tetapi sering sekali pemikirannya tidak sampai, semisal hanya untuk memahami sunnah Rasullullah yang sering diaku-aku sebagai nenek moyang. Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, sebuah bahasa yang sangat sederhana tetapi mempunyai makna yang dalam dan sangat terang. Tetapi sepertinya tidak berarti banyak bagi kaum ngArab maklum ini, yang merupakan sekelompok orang-orang yang mungkin memang terlahir sebagai pecundang.

Walaupun berada jauh, paling tidak saya telah melakukan bukti dengan membantu sesama sanak saudara yang sebangsa dan setanah air. Membuat lingkaran pertemanan dengan mendirikan yayasan BUK SQUAD demi membantu meningkatkan ekonomi kerumahan, berbasis rezeki yang insha Allah akan terus mengalir. Setidaknya kaum Yaman coret ini jika tidak mau mencintai tanah yang mereka pijak dan tempat mencari nafkah, seharusnya lebih perduli kepada tanah leluhur di mana penduduknya kebanyakan miskin dan fakir. Tetapi demi mencari sesuap nasi atau sekedar berpolitik, mereka malah ikut menunggangi konflik negara lain yang menurut risalah tidak akan pernah selesai hingga jaman berakhir.

Tabik.

B. Uster Kadrisson