Home > Lain-lain > Mengepet ala Munarman..

Tradisi ilmu klenik dari kebudayaan kuno mempunyai banyak cara yang sampai sekarang masih dilakukan dan diyakini oleh banyak orang. Saya pernah mempunyai seorang dosen yang tangannya burikan bagaikan sisik ular yang tidak merasa malu-malu untuk menggaruknya di depan hadirin sekalian. Menurut desas desus, itu yang membuat dia menjadi kaya raya sekali, dan rasanya sedikit aneh kalau dia tidak bisa berobat ke dokter kulit terkenal yang ada di Singapore atau Jepang. Dan hebatnya lagi dia tidak sungkan-sungkan untuk memakai baju berlengan pendek sehingga semua cacat terlihat jelas dan terpampang.

Banyak orang yang ingin menjadi sukses atau kaya mendadak dengan cara yang singkat tanpa harus pernah bersusah payah untuk bekerja atau berusaha. Semisal dengan cara mengunjungi petilasan-petilasan makam orang terkenal untuk mengalap berkah atau juga meminta ajian tertentu pada dukun ilmu hitam dengan membayar sebentuk harga. Terkadang bukan uang atau harta yang diminta sebagai pengganti tetapi sebuah kondisi seperti kelainan kulit yang saya ceritakan di alinea pertama. Atau sering yang lebih ektreem yaitu meminta tumbal nyawa dari salah seorang anggota keluarga yang tercinta.

Yang sedang menjadi topik hangat akhir-akhir ini adalah perilaku Wan Abud yang bermalam di kamar Kiai Ageng Muhammad Besari dan berganti baju sebanyak tiga kali. Kunjungan ke desa Tegal Sari, Ponorogo ini dilakukannya di sela perjalanan dinas untuk mengunjungi propinsi Jawa Timur, khusunya ke kabupaten Ngawi. Bukan sebuah rahasia lagi kalau banyak praktek ngalap berkah yang dilakukan di tempat-tempat keramat yang menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai orang suci. Makam ulama yang pernah hidup pada abad 18 ini sering menjadi tempat kunjungan oleh para petinggi yang sedang gundah gulana untuk meminta rahmat serta ketetapan hati.

Garis turunan Kiai Ageng Besari diyakini sebagai salah satu dari ulama-ulama yang menjadi sang maha guru dari pada sosok raja-raja tanah Jawa. Dari pihak ayah yang menjadi penasehat Raden Wijaya sampai sanad sang ibu yang bisa dirunut hingga ke putri Rasullullah, Fatimah Az-Zahra. Dari tangannya terdidik raja-raja Kartasura seperti Pakubuwono II, dan juga HOS Cokroaminoto, raja Jawa tanpa mahkota. Sehingga apapun alasan wan Abud yang tanpa malu-malu memajang postingan di Instagramnya, sepertinya dia akan melakukan all out untuk menggapai kursi istana walaupun harus menggadaikan harga diri dan menyembah berhala.

Cerita lain tentang pesugihan atau usaha ilmu klenik untuk mencari kekayaan yang sedang ramai dibicarakan adalah dalam bentuk babi ngepet. Emak-emak berkerudung yang tidak senang melihat tetangganya makmur tanpa pernah terlihat bekerja, langsung saja menuduh dan merepet-repet. Mungkin saja, sang tetangga bekerja online dari rumah, sehingga tidak harus bermanis-manis muka bertemu dengan orang-orang yang cerewet. Selain itu ada juga ustad wannabee yang ingin pengajiannya ramai, membuat settingan kalau sudah berhasil menangkap sang babi jelmaan padahal dia sendiri yang membeli si porky pig melewati applikasi di internet.

Melalui seorang dukun klenik ilmu hitam, seseorang bisa untuk meminta ajian supaya bisa menjadi kaya raya dengan cara mengambil harta kepunyaan orang. Ajian itu menyebabkan dia harus berubah bentuk menjadi sebuah makhluk buruk rupa berupa babi yang berkulit hitam dan legam. Saat akan menunaikan tugasnya, sang pelaku harus telanjang bulat dengan mengenakan jubah hitam yang penuh dengan kantong-kantong yang terjahit di bagian dalam. Gunanya untuk mengumpulkan harta benda yang berhasil dicuri, biasanya dalam bentuk uang atau juga berupa emas permata simpanan.

Tetapi praktek ini tidak bisa dilakukan secara sendirian, harus mempunyai seorang partner yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan menjamin kesuksesan. Seseorang harus menjaga sebongkah lilin yang diletakkan di dalam sebuah wadah yang terapung di atas air, supaya nyalanya tetap bersinar terang sepanjang malam. Sang pelaku yang sudah menjelma menjadi makhluk serupa babi hutan, akan menggesek-gesekkan badannya ke dinding atau pagar rumah yang sedang menjadi incaran. Herannya praktek ini tidak berlaku terhadap mesin ATM atau bangunan Bank, di mana lebih banyak harta tersimpan, entah karena harus ada nomer PIN yang diperlukan atau secarik tanda tangan.

Seiring dengan perubahan jaman ternyata praktek mengepet tidak perlu lagi harus menggunakan ilmu hitam dan menjaga nyala api lilin semalaman. Seperti yang telah dipertontonkan oleh si Munarman, mantan petinggi efpei, yang kalang kabut ketika PPATK membekukan sejumlah rekening ketika kelompok preman ini dibubarkan. Disinyalir Munarman dan beberapa orang lainnya telah mengepet dana bantuan yang masuk melalui rekening yang berkedok untuk perjuangan ummat Islam. Dan juga akal-akalan si Somad yang baru berganti ranjang, dengan menyerukan untuk mengumpulkan dana untuk membeli kapal selam yang nanti aliran dananya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Juga tidak selamanya praktek mengepet ini untuk mencari kekayaan, bisa juga sekedar bentuk pelampiasan syahwat demi mencari kepuasaan. Seperti juga yang sudah dilakukan oleh si Munarman, yang telah mengepet seorang janda beranak satu selama tahunan dan baru saja menjadi headline karena ketahuan. Malang benar memang nasib si pecundang, sudahlah digiring paksa untuk masuk kerangkeng karena afiliasinya dengan kelompok teroris, sampai sendalpun tidak jelas kemana larinya dan menghilang. Seperti pepatah orang-orang dahulu yang mengatakan, sepandai-pandainya Munarman mengepet akan terpeleset oleh lendir sendiri dan akhirnya terjungkang.

Tabik.

B. Uster Kadrisson