Home > Lain-lain > Identity theft..

Baru saja saya mendapat telpon dari kantor Social Security atau mungkin seperti jawatan Dukcapil kalau di Indonesia. Mereka mengatakan kalau nomer social security saya atau yang dikenal dengan #SSN sedang disuspend karena bermasalah. Sehingga untuk mengclearkan persoalan saya harus berbicara dengan seseorang di line nomer dua. Sehingga dengan jantung berdebar-debar saya mencari informasi dengan seseorang yang berada di ujung sana.

Semua sangat sopan dan nada bicara sangat teratur, selain itu dia juga memberikan nama dan nomer identitas karena katanya semua percakapan sedang direkam. Pertanyaan awal sangat simple sesuai prosedur, yaitu nama awal dan belakang serta 4 digit terakhir dari nomer yang selalu dirahasiakan. Kemudian dia menerangkan kalau US Marshal dari justice court di Chicago yang menangguhkan segala aktivitas SSN saya karena sedang ada proses pengadilan. Menurut dia kalau SSN saya sedang terkait dalam sebuah kasus trafficking narkotika serta pencucian uang.

Semua detail saya bantah karena memang tidak benar dan saya tidak pernah berurusan dengan perbankan di Chicago metropolitan. Sehingga dia menyimpulkan kalau sudah terjadi identity theft atau pencurian identitas dan rekaman percakapan ini akan dilaporkan dalam persidangan. Kemudian pertanyaan mulai menjurus ke arah personal karena dia menanyakan bank apa yang saya pakai dan berapa jumlah yang ada dalam simpanan. Karena saya menolak untuk memberi tahu, dia kemudian memberitahukan sejumlah pasal-pasal dalam undang-undang yang mengharuskan saya untuk mengatakan.

Kemudian dia mulai mengorek apakah saya mempunyai bank lain karena biasanya orang mempunyai lebih dari satu. Saya mulai merasa ada yang tidak beres dan saya katakan kalau sepertinya saya tidak akan melanjutkan percakapan yang mulai menjurus ke arah yang tidak menentu. Dengan setengah memaksa dia mengatakan kalau semua keterangan dibutuhkan di pengadilan dan sangat perlu. Saya akhirnya mengatakan biasanya kantor pemerintah akan mengirimkan surat pemberitahuan secara tertulis dan untuk sementara itu akan saya tangguhkan persoalan ini sambil menunggu.

Eh, langsung telpon dimatikan dan ketika saya mencoba mengontak kembali nomer telpon tersebut tidak aktif dan tidak terdaftar. Langsung saya tahu kalau ini permainan kelompok yang malah ingin mencuri identitas seseorang dengan cara menyamar. Berlagak menjadi petugas kantor pemerintahan yang sah dengan mengorek keterangan-keterangan yang diperlukan dengan gaya yang sangat pintar. Dengan mengulur percakapan yang panjang dan membuat seseorang menjadi silap lidah sehingga memberikan informasi yang benar.

Semua jawatan pemerintah di Amerika biasanya akan memberikan surat lewat postal service berbagai pemberitahuan tentang segala macam perkara. Walaupun kadang mereka juga menelpon untuk memberitahukan tetapi semua detail ada di dalam surat yang menjadi pertanda. Karena itu akan menjadi pertinggal sebagai bukti dokumentasi resmi bagi kita. Sebab kita tidak mempunyai rekaman pembicaraan melalui telpon yang hanya akan dimiliki oleh pihak sebelah.

Sebenarnya saya sudah sedikit curiga ketika merasa mendengarkan ada aksen orang India di dalam nada suara yang berbicara. Walaupun dia sudah berhati-hati dalam berkata tetapi ada satu dua kali saya menangkap aksen yang berbeda. Sudah menjadi jamak kalau ada dua negara di dunia yang menjadi sarang pencurian identitas yaitu India dan Nigeria di Afrika. Kalau di Indonesia mereka suka mengirimkan email tentang meminta bantuan untuk pencairan dana yang lumayan besar dengan meminta sejumlah uang di awal sebagai persyaratannya.

Pencurian identitas memang sering terjadi apalagi di jaman sekarang dengan segala proses online yang sepertinya memudahkan tetapi sebenarnya membuka peluang besar bagi para pencuri. Para hacker bisa masuk ke dalam sebuah sistem untuk mendapatkan kumpulan data-data pribadi. Di Indonesia juga sedang ada pertarungan karena pembocoran data antara Telkomsel dan bang Denny. Selain itu juga pernah ada kasus yang menggunakan identitas office boy sebagai pemenang tender yang akhirnya berujung ke ranah korupsi.

Di Amerika ada dua hal yang biasanya sangat dirahasiakan oleh para citizen, kalau bisa jangan sampai ada yang tahu kecuali pihak keluarga. Yang pertama adalah nama tengah yang biasanya tidak pernah dituliskan atau mungkin hanya dengan singkatan saja. Yang kedua adalah nomer social security yang ada dalam secarik kertas resmi kecil persegi yang biasanya disimpan bersama dengan dokumen penting lain di dalam rumah. Nomer ini menjadi abadi sebagai identitas seseorang, bagaikan buku laporan yang terkait dengan semua sistem yang ada.

Yang lumayan enak, di Amerika kita bisa mengklaim tidak bersalah jika nanti ada tuntutan yang merugikan menyangkut pencurian identitas. Saya pernah mengalami saat waktu pertama-pertama berada di Amerika, ketika mendapat telpon dari yang mengaku dinas imigrasi dan kemudian seluruh uang di tabungan saya habis dikuras. Dengan melapor ke bank kalau saya tidak melakukan transaksi tersebut, akhirnya semua bisa ditarik kembali dan menghapus rekening yang lawas. Beberapa kali juga ada tagihan pembelian di kartu kredit yang tidak saya lakukan, akhirnya bisa dihilangkan tanpa banyak cingcong, rata-rata perusahaan Credit card ingin supaya customer puas.

Saya biasanya hanya bertransaksi online dengan situs terpercaya seperti Amazon atau situs resmi dari sebuah brand yang ada. Ataupun kalau nga, saya akan memilih yang menggunakan jasa transfer seperti PayPal yang juga sudah sangat terpercaya. Selain itu pernah juga saya menggunakan limited credit card atau debit card yang bisa diatur besarnya transaksi yang diijinkan setiap kali berbelanja. Sehingga kalau ada pembelanjaan atau penarikan dana melebihi yang sudah ditetapkan, secara otomatis akan ditolak dengan sendirinya.

Tabik.

B. Uster Kadrisson