Home > Lain-lain > Lama kali pun..

Tidak ada yang lebih menyenangkan saat bangun pagi dan menemukan video dengan berita tentang serombongan anggota prajurit TNI yang berhenti sejenak di depan gang Petamburan. Dengan memainkan sirene yang cukup memekakkan telinga, diharapkan para kadrun yang bermukim di sana bisa dengan seksama mendengarkan sebagai sebuah tanda peringatan. Jelas sasarannya cuma ada satu orang yang selama ini selalu berlaku petantang petenteng karena merasa jumawa disebabkan pengikutnya yang berjumlah ribuan. Berlagak bagaikan jagoan, selain karena memang ada sekumpulan pecundang yang dengan sengaja melindunginya seperti anggota genk Cendana yang takut kehilangan simpanan di bank atau si kumis Chaplin, orang tua uzur yang masih mencoba untuk menumpuk harta kekayaan.

Si mantan tukang obat yang berasal dari daerah sana, memang baru minggu kemarin pulang dari tanah suci dan disambut dengan meriah oleh segenap laskar efpeih dan berbagai simpatisan. Ada sedikit kegeraman saat seorang teman yang memberitahukan kepada saya secara live, karena saat itu dia sedang tertunda di perjalanan ke bandara untuk bertugas dalam sebuah jadwal penerbangan. Laporan terakhir yang mengupas tentang berbagai kerusakan fasilitas umum yang terjadi di sana, dan tidak adanya tindakan dari kepolisian yang sepertinya sengaja membalik punggung untuk membiarkan. Tetapi belakangan berbagai analisa mengatakan, kalau memang intervensi dari aparat sengaja diperkecil seminimal mungkin supaya tidak terjadi bentrokan, sesuatu yang oleh sang penyandang dana alias bouwheer sangat diharapkan.

Setelah itu berturut-turut terjadi pengumpulan massa yang sedemikian besar di beberapa lokasi dengan berbagai macam alasan. Dari mulai acara peringatan maulid Nabi besar Muhammad saw sampai penutupan 3 km jalan raya untuk mengadakan pesta pernikahan. Wan Abud yang menjadi penjaga gawang tampak malah memang sengaja membantu segala macam persiapan, bertolak belakang dengan aturan social distancing dan segala macam tetek bengek yang telah ditetapkan. Malah tanpa menunggu lama, langsung datang sowan dan bertemu muka, yah.. bisa dimaklumi soalnya saudara tua datang dari jauh dan sudah kangen berat untuk menanyakan kabar sanak famili yang berada di Yaman.

Tadinya saya sangat kesal dengan segala pembiaran yang terjadi, apalagi saat membaca status berbagai selebriti sosmed yang mempertanyakan posisi dan kebijakan ayahanda Jokowi. Tetapi saya masih mencoba berdiam diri dan bertahan untuk tidak turut serta mengomentari. Kemudian satu persatu ilalang disibak, dan gara-gara peristiwa ini ada beberapa petinggi Polri yang kemudian dimutasi. Kemudian masuk seseorang yang diharapkan bisa menjadi jagoan baru yaitu Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, yang sebelumnya sudah pernah berurusan dengan sang imam mesum sebelum dia ngacir pergi lari.

Maafkan kalau saya tersenyum lebar saat membaca tentang wan Abud yang diperiksa oleh Bareskrim Metro Jaya hingga hampir sepuluh jam. Yah, terserahlah apa yang terjadi di sana, entah mereka kongkow-kongkow atau ngupi ngupi, tetapi rasanya saya tidak akan betah kalau selama itu berada di dalam. Pak Tito Karnavian juga sudah diperintahkan untuk menindak lanjuti segala macam permasalahan yang terjadi dengan si wan Abud yang memang terlihat sangat pembangkang. Terus terang saya sedikit kecewa dengan pak Tito yang terkesan melempem sejak naik jabatan dan tidak pernah pernah ada sepak terjang yang terlihat jelas yang membuat lawan terjengkang.

Dengan tampilnya Irjen Fadil Imran ke atas panggung yang akan berhadap-hadapan dengan si Imam mantan penjual minyak wangi, walaupun kasus chat mesum sudah dihentikan tetapi sepertinya kasus yang lain akan segera dilanjutkan. Masih akan kita tunggu apakah pelanggaran PSBB akan menjadi alasan yang lain lagi untuk membuatnya bungkam, supaya pemerintah tidak dituduh mengkriminalisasi sang ulama jadi-jadian. Kadang-kadang saya keki mengikuti gaya permainan catur ayahanda Jokowi, dengan jalan yang memutar-mutar khas beliau sehingga lawan terkecoh, yang.. “lama kali pun”.. dan membuat kita tidak sabaran. Tetapi seperti yang pernah dikatakan oleh kokoh BTP,  beliau itu bisa membuat lawan politiknya tidak berkutik dengan cara seperti merebus kodok di atas jerangan api secara perlahan-lahan.

Walaupun si imam jumbo sudah lebih dari tiga tahun berada di Saudi Arabia, ternyata tidak melekat sedikitpun di dalam jiwanya akan kesucian tanah Al Mukarromah. Ucapan yang keluar dari mulutnya masih belum bisa dia kontrol, masih penuh dengan kata-kata yang tidak pantas dan berbagai sumpah serapah. Ketika mengomentari tentang artis nyai Nikita, dengan panggilan kata lonte yang dengan gampang dan mudahnya meluncur dari bibir, ibarat sedang meludah. Saya yakin kalau pantatnya pasti merasa iri dengan sang mulut karena ternyata kotoran lebih banyak keluar dari sana.

Tabik.

B. Uster Kadrisson