Home > Lain-lain > Mamala..

Wanita muda yang sangat mungil, Syamala Gopalan tidak pernah akan menyangka kalau langkahnya menapakkan kaki di benua Amerika akan membawa berkah dan mengukir namanya dalam sejarah. Datang dari Madras, daerah Chennai-Tamil Nadu yang berada di sebelah Selatan India, dia hanya bermaksud untuk mengambil master di Universitas Berkeley, California. Pertemuannya dengan Donald J. Harris, seorang pemuda aktivitis kampus yang merupakan imigrant asal Jamaica, ternyata merubah semua rencana. Dari semula yang hanya sekedar kekaguman akan cara dia berorasi dan dilanjutkan dengan berdiskusi bertukar pikiran yang berakhir ke dalam bahtera rumah tangga.
Mungkin ini hanya sekedar cinta lokasi, perasaan yang timbul sesaat karena menyatukan ide pemikiran yang sama, akhirnya keluarga muda yang dibentuk terpaksa harus berpisah. Syamala mendapatkan hak custody atas kedua putrinya, Kamala dan Maya, walaupun mereka masih diperbolehkan untuk mengunjungi sang ayah di Palo Alto setiap akhir minggunya. Ketika mendapatkan pekerjaan di Canada, Syamala membawa kedua putrinya yang berusia 12 dan 10 tahun sampai Kamala menyelesaikan SMA di sana. Kedua orangtuanya tidak pernah menikah lagi, sedang hubungan Kamala dengan sang ayah tidak begitu baik sampai kini, mungkin karena dia merasa ditelantarkan sehingga menjadi sangat protektif terhadap sang adik yang hanya berusia dua tahun lebih muda.

Dengan status double minoritas dan anak immigrant membuat Kamala sering mendapat perlakuan diskriminasi yang sangat mempengaruhi kehidupan dan nanti menjadi dasar-dasar kebijakan yang diambilnya. Saat masih di TK dia harus bersekolah yang jauh dari rumah dengan mengendarai bus sekolah karena urusan segregasi yaitu pemisahan antara siswa kaum kulit putih dengan anak-anak kulit berwarna. Sewaktu SMA, seorang teman baiknya mendapatkan pelecehan seksual oleh ayah tiri yang membuat keluarga Kamala membuka pintu untuk menampung sang sahabat di rumahnya. Ketika nanti Kamala menjalankan karir sebagai District Attorney San Francisco dan berlanjut menjadi General Attorney California, dia berusaha sekuat tenaga untuk melindungi anak-anak dan kaum wanita dari hukum yang tidak selalu berpihak kepada mereka.

Kamala sangat keras terhadap para pelanggar lingkungan hidup sampai dia membentuk kesatuan anti kejahatan terhadap lingkungan atau environmental crime unit. Dua orang pegawai percetakan diseret ke penjara karena membuang tinta bekas yang mengandung zat kimia berbahaya di perkampungan orang miskin yang menyebabkan mereka menjadi jatuh sakit. Selain itu dia sangat konsen terhadap kehidupan LGBT dan membuat kesatuan anti kejahatan berdasarkan kebencian yang berlanjut menjadi undang-undang negara bagian yang disahkan oleh Arnold Schwarzenegger yang ketika itu menjabat sebagai gubernur California dengan mengeluarkan dektrit. Saat itu sedang marak sebuah kasus Gwen Araujo, seorang transgender Latina berusia 17 tahun yang dibunuh oleh 4 orang laki-laki karena mereka terkecoh setelah berhubungan dengannya, sebab menyangka dia adalah seorang wanita ternyata mempunyai tytyd.

Karir Kamala terus menanjak sampai menjadi Senator California dengan mendapat dukungan dari Joe Biden dan Barrack Obama yang saat itu masih berkuasa. Dia menjabat kursi senate dan berkedudukan di gedung Capitol di Washington DC, bersamaan dengan naiknya si Oyen Trump ke atas singgasana. Dan dari awal dia sudah sangat antipati terhadap segala kebijakan sang president yang berpihak kepada kroni dan selalu menyasar kaum imigrant dari manca negara. Sering Kamala memanggil para pembantu si Oyen ke ruang sidang untuk menjawab segala permasalahan yang tampak absurd dan mengada-ada.

Kamala sangat sibuk dengan karirnya yang terus menanjak naik sampai lupa atau mengesampingkan sejenak keinginan untuk membina rumah tangga. Walaupun pernah dia diisukan berkencan dengan seorang pejabat yang nanti akan menjadi walikota San Francisco, yang ketika itu sudah menduda. Hingga di usia yang sudah sangat matang, Kamala masih saja hidup sendiri belum mempunyai pendamping, padahal dia masih terlihat sangat cantik di umur yang sudah mendekati kepala lima. Seorang teman baik kemudian memperkenalkannya dengan Douglas Emhoff, seorang entertainment lawyer dengan status duda cerai yang sudah mempunyai dua orang anak remaja.

Blind dating kemudian berlanjut ke jenjang perkawinan satu tahun sesudahnya pada tahun 2014, ketika Kamala berusia 50 tahun dengan pesta yang sangat sederhana. Sang suami yang sekarang akan menjadi Second Gentleman, sangat mendukung segala ambisi sang istri hingga rela menjalani cuti panjang supaya bisa mendampingi dengan segenap jiwa. Ke dua anak Douglas dari perkawinan pertama, Cole dan Ella sangat dekat dengan sang ibu tiri dan mempunyai panggilan kesayangan yaitu ‘Mamala’. Yang hebatnya, sang mantan yaitu istri pertama Douglas turut menjadi relawan tenaga sukarela dalam membantu kampanye Kamala hingga menjadi orang yang kedua.

Tidak ada opponent dalam kancah politik yang bisa menyerangkan Kamala Harris mengenai rasisme karena sekarang dia adalah minoritas tingkat tiga. Selain asal keturunan yang merupakan imigrant campuran kulit hitam dan India, walaupun agak sedikit tidak jelas status religiusnya karena sang ibu mengajarkan agama Hindu sewaktu masih kecil dan keluarga sang ayah sering mengajaknya ke gereja. Ditambah lagi dengan keadaan sang suami yang merupakan seorang Yahudi tulen, semakin lengkap kehidupannya bagaikan gado-gado saja. Dalam sebuah wawancara, dia ditanya sang reporter apakah pernah mencoba mengisap ganja, dengan setengah bercanda dia balik bertanya ‘Are you kidding, I’m half Jamaica’.

Langkah Kamala Harris sepertinya tidak akan berhenti karena dia diperkirakan akan melanjut nanti mencalonkan diri menjadi orang yang pertama di Amerika. Sering dalam masa kampanye, Joe Biden setengah bercanda memberikan signal dengan memperkenal dirinya sendiri sebagai pendamping Kamala bukan sebaliknya. Usia Joe Biden yang nanti akan melewati 80 tahun di ujung masa, membuat dia kemungkinan besar tidak akan melanjut untuk term yang ke dua. Mungkin sudah saatnya dalam umur dua setengah abad kemerdekaan Amerika mempunyai seorang presiden wanita, apalagi jika nanti didampingi oleh Pete Buttigieg, seorang walikota di negara bagian Indiana yang tengah naik daun, yang openly gay, wah.. pasti akan sangat meriah.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan : Chasten adalah partner walikota Pete Buttigieg.