Home > Lain-lain > Opa Joe..

Joe Biden bukanlah pilihan utama saya ketika sekelompok politikus partai Democrats mencalonkan diri sebagai kandidat presiden sejak awal tahun untuk direkrut. Ada 29 orang yang maju ke depan, dari mulai walikota Pete Buttigieg, businessman Bloomberg, beberapa orang senator senior yang sudah cukup uzur dengan wajah yang telah mengkerut dan keriput. Termasuk juga wakil presiden terpilih Kamala Harris yang harus mundur teratur dari pencalonan karena persaingan yang ketat dan semakin mengerucut. Ketika kandidat yang tersaring tinggal sedikit, berdua dengan Bernie Sanders yang juga sudah mendekati usia 80 tahun, saat itu saya hanya melihat seperti ada sekumpulan orang-orang tua dari panti jompo yang saling berebut.

Tetapi ketika akhirnya dalam pertemuan akbar partai Democrats bulan Agustus, setelah Sanders mengundurkan diri dan diputuskan kalau Joe Biden yang akan maju sebagai jagoan. Banyak yang skeptis karena kemungkinan untuk menang akan sangat tipis karena si petahana Oyen Trump terkenal suka main kasar dan apalagi didukung oleh simpatisannya yang sangat militan. Tetapi sebagai umumnya anggota partai yang terdaftar, orang-orang simpatisan Democrats hanya akan mengikuti saran dan mendukung keputusan yang telah dicanangkan. Lebih baik memilih Biden-Harris dari pada kembali memberikan mandat kepada si Oyen yang suka bertingkah petantang petenteng seperti preman.

Mendengarkan Joe Biden berpidato, seperti layaknya mendengarkan seorang kakek yang sedang mendongeng kepada cucu-cucunya. Dia tidak terlalu berapi-api tetapi nadanya teratur dan pronunciation setiap kata tepat dan tidak ada banyak yang salah. Dia menyapa para simpatisan dengan sebutan ‘folks’ yang bisa diartikan teman, handai tolan atau juga sanak saudara. Dia tidak meninggikan status, dan kerap menggunakan aksen dan dialect daerah selatan seperti “y’all” yang artinya kalian semua.

Memang tidak salah kalau mengibaratkan dia sebagai seorang kakek karena ada tujuh orang cucu yang selalu menjadi buah hati dan menjadi sentra kehidupannya. Joe ditinggal mati istri pertamanya karena kecelakaan mobil dan turut meninggal seorang putri yang masih berusia balita ketika mereka ingin membeli pohon natal menjelang Christmas tahun 72. Kedua putranya Beau dan Hunter yang saat itu masih sangat kecil juga turut serta di dalam kendaraan sehingga pengalaman ini membuat mereka menjadi trauma. Bagaikan film drama televisi, Joe yang baru diangkat dan terpilih menjadi Senator Delaware, dengan hati yang hancur karena kehilangan istri dan putri, mengucapkan sumpah di rumah sakit di mana kedua putra yang masih berusia 4 dan 3 tahun terbaring tidak berdaya.

Joe kemudian menjadi super protektif, dia rela bolak balik antara kantor dan rumah yang cukup jauh demi bisa selalu bersama kedua buah hatinya. Dia kemudian dikenal sebagai Amtrak Joe, karena menggunakan kereta api Amtrak untuk menempuh jarak 160km setiap hari selama 36 tahun dan sampai sekarang juga masih sering menggunakannya. Stasiun Wilmington di Delaware di mana dia selalu turun dan naik, kemudian menasbihkan namanya sebagai nama resmi sebagai tanda. Jika dihitung-hitung dia telah menempuh perjalanan dengan menggunakan kereta api sepanjang 3 juta km dan menghabiskan waktu 4 tahun dari total usia.

Beau Biden, sang putra tertua yang juga mengambil namanya Joseph Robinette Biden III menjadi putra kesayangan dan mengikuti jejak serta karirnya. Dia menjadi ahli hukum dan menjabat sebagai Attorney General negara bagian Delaware selama hampir dua dasa warsa. Hunter putra kedua sedikit urakan dan lebih tepat sebagai businessman dan belakangan sepak terjangnya sedikit menjadi batu sandungan bagi sang ayah. Hubungan liarnya di luar pernikahan dengan beberapa orang wanita membuat Joe Biden sekarang mempunyai dua orang cucu yang masih berusia balita.

Tetapi sayang, Beau sang putra kebanggaan harus pergi untuk selamanya sekitar 5 tahun yang lalu karena menderita kanker otak. Semua terjadi secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, ketika dia mendapat serangan stroke yang mendadak. Padahal dia sudah digadang-gadangkan akan menjadi gubernur Delaware untuk masa pemilihan berikutnya dan dipastikan dia akan mendapatkan posisi tersebut, sayang usianya tidak banyak. Joe Biden mengalami kedukaan yang sangat berat, dan dalam usia 46 tahun, Beau Biden menyerahkan nasib kepada sang Maha Berkehendak.

Sekali lagi seperti dalam drama film televisi, di ujung usia saat meregang nyawa, Beau berpesan kepada ayahnya untuk melanjutkan karir menjadi orang yang pertama. Dia yakin kalau sang ayah mampu untuk membawa bangsa Amerika ke jaman yang lebih bermartabat dan menjadi mercu suar dunia. Dan alasan Joe Biden memilih Kamala Harris sebagai mitra adalah juga atas saran almarhum sang putra yang sudah mengenal beliau sejak lama ketika menjadi Attorney General California. Ternyata nasib memang sudah ada jalannya sendiri-sendiri, kedua orang kebanggaan Beau akhirnya berhasil menjadi pemimpin Amerika di masa susah akibat wabah bencana.

Dalam kampanyenya Joe Biden selalu membawa nama Beau sebagai perbandingan atas kematian 240ribu rakyat Amerika akibat Corona, karena dia tahu apa rasanya kehilangan seseorang yang tercinta. Semua policy kebijakan yang dijanjikan akan dilakukannya jika terpilih, selalu merujuk kepada kehidupan keluarga kelas menengah ke bawah. Pajak yang hanya menyasar kalangan kaya, jaminan kesehatan yang melingkupi kelainan bawaan, dan kesetaraan hukum untuk semua tanpa memandang gender, etnis dan prevalensi seksual mereka. Juga keberpihakannya mengenai lingkungan hidup yang lebih baik, karena dia ingin memberikan bumi dan udara yang sehat untuk kelangsungan hidup cucu-cucunya.

Baru saja ada seorang anak remaja kulit hitam datang membeli sesuatu dengan menggunakan masker Biden-Harris sebagai penutup wajah. Saya tanya apakah dia ikutan memberikan suara, dengan bangga dia menjawab ‘tentu saja, saya ingin sesuatu menjadi berubah’. Sedikit terkejut ketika dia mencapai register untuk membayar, saya memberi isyarat kepada rekan yang bekerja untuk memberikan saja secara cuma-cuma. Dia berpaling kepada saya dengan mengacungkan jempol sembari tersenyum lebar sumringah dan berlari menjumpai temannya dengan berteriak gembira.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan : Joe Biden grandkids (Natalie, Finnegan, Naomi, Maisy, and Robert) with the first lady Jill Biden.