Home > Lain-lain > Suara yang membawa berkah..

Sekitar tahun 80an, ada seorang penyiar yang bekerja di radio Prapanca yang berlokasi di kota Medan yang sangat phenomenal. Dengan suara yang khas, sedikit berat dan tawanya yang renyah, yang bisa membuat pendengar terutama emak-emak blingsatan dan kehilangan akal. Acaranya biasanya pagi menjelang siang, saat waktu sedang sekolah, kebanyakan berisi obrolan dan candaan tentang seputar rumah tangga diselingi lagu-lagu yang saat itu cukup terkenal. Mendengarkan suaranya, mungkin rombongan ibu-ibu penggemar ini sedang membayangkan Omar Sharif, bintang film beken asal Mesir dengan kumis melintang, dan dia bernama Bang Jamal.

Saya pernah beberapa kali mendengar suaranya saat bulan puasa, ketika jadwal siarannya dipindahkan menjelang waktu sahur. Terdengar kalau dia selalu mendapat kiriman makanan dari para penggemar, berupa ayam bakar, nasi kapau atau camilan pembuka puasa berupa bubur. Mungkin kalau sudah ada sistem rating pada saat itu, acara yang dipandu oleh Bang Jamal ini barangkali menempati urutan yang tertinggi, jika bisa diukur. Dahulu, kemasyuran seorang penyiar radio yang tidak pernah terlihat oleh pemirsa sangat berbeda dengan pembaca acara tv atau media sosial jaman sekarang yang bisa tampak jelas tanpa ada sensor atau diblur.

Bang Jamal ternyata sangat pemalu, tetapi dia bisa berubah menjadi seperti orang lain di depan corong radio dengan suara yang merayu. Suatu ketika ada seorang fans yang datang ke studio dan bertanya kepadanya, dan dia menunjuk seseorang yang lain sebagai dirinya, karena kebetulan saat itu dia sedang menyapu. Entah mungkin karena dia merasa rendah diri karena -maaf- wajahnya memang jauh dari kesan tampan dan merasa tidak laku. Ketika koran Waspada, sebuah media lokal terbesar di Medan menurunkan artikel tentangnya lengkap dengan photo, banyak penggemar yang kecewa karena bayangan mereka tentang dia selama ini hanyalah ilusi yang semu.

Ada beberapa saat, acara itu menurun pamornya tetapi setelah itu kembali menanjak seperti semula. Setelah para penggemar akhirnya menyadari dan menerima kenyataan, setelah terbantai dengan rasa shock yang mendera. Suara sebagai salah satu karunia Tuhan kadang sering tidak datang sepaket dengan wajah yang rupawan atau jelita. Akhir tahun 80an ada skandal grup penyanyi Milli Vanilli yang ternyata lipsynch atau juga ketika mendengar suara David Beckham yang seperti mencicit dan bukan keluar dari mulutnya.

Mungkin anak-anak milenial jaman saiki tidak tahu bagaimana rasanya menunggu untuk mendengarkan sebuah acara kegemaran di depan radio pada jam-jam tertentu. Acara di sore hari untuk para remaja setingkat SMP dan SMA yang saling mengirimkan pesan dan menyapa, disertai permintaan untuk memutarkan lagu-lagu. Sedangkan pada malam hari, untuk penggemar yang lebih dewasa, acara Pilihan Pendengar yang disertai pembacaan permintaan yang sangat panjang, dari mulai salam kenal atau salam sayang mengatakan rindu. Yang hebatnya, sang penyiar bisa membaca pesan tanpa berhenti untuk bernafas yang merepet bagaikan senapan mesin yang tidak pernah kehabisan peluru.

Para penyiar ini biasanya bekerja sendiri, dari mulai menerima telpon, memutar lagu dan sering terdengar kalau di belakang corong mick mereka lari ke sana ke mari dan kalang kabut. Terkadang kalau lagu permintaan yang diputar dengan menggunakan kaset, sering terdengar ada buntut dari lagu sebelumnya yang masih terikut. Karena kaset ini direwind atau diputar ulang dengan menggunakan pensil yang ujungnya di raut. Yang paling heboh kalau lagu tersebut cukup populer dan telah berulang kali diputar, sehingga pita kaset menjadi bergelombang dan terbelit kusut.

Ada seorang wanita di Indonesia pada jaman itu yang sangat terkenal karena suaranya, yaitu Ibu Maria Oentoe. Suara beliau bisa terdengar di mana-mana, dari mulai iklan, pemberitahuan di bandara atau stasiun kereta api, saat gerbong akan beranjak dan menutup pintu. Serial boneka si Unyil dengan tokoh pak Raden yang sangat terkenal, walaupun profile Bambang Utoyo yang menjadi pengisi suara di belakang sang boneka kecil tidak banyak yang tahu. Sedang Bart Simpson sampai sekarang sudah 32 tahun dan kenakalan serta suaranya tidak pernah berubah dengan berkata ‘Ay, Caramba’ jika dia kaget berseru.

Sewaktu saya tinggal di Jakarta, ada selama beberapa waktu di penghujung abad 20 saya banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan gurauan di radio SK. Radio Suara Kejayaan yang berlokasi di Manggarai, di atas gedung Pasaraya ini selalu penuh dengan acara yang mengundang gelak dan tawa. Banyak grup pelawak kondang yang sangat terkenal seperti Bagito, Patrio, Komeng dan kawan-kawan yang dari sini karir mereka bermula. Perlahan-lahan mereka kemudian merambah acara di tv sehingga bisa terlihat raut wajah dan muka.

Ada seorang penyiar di sana yang saya lumayan suka, yang ketawanya sedikit beda dan sering tampil dengan pelawak yang lain termasuk dengan mbak Ulfa. Tetapi, ketika yang lain berebutan dan satu persatu muncul di tv, dia tetap tertinggal di studio di belakang tombol serta panel dan saya penasaran dengan tampangnya. Saya hanya kenal namanya, Toto Hoedi dan setelah lebih dari 20 tahun, baru kemarin lusa saya melihat tampang culunnya dalam sebuah thread di kaskus yang membahas tentang radio di masa-masa yang sudah. Ternyata dia sekarang sudah menjadi sutradara film horror dan komedi, dengan beberapa karya seperti Capres (Calo Presiden), Hantu Aborsi yang sudah ditanganinya.

Tabik.

B. Uster Kadrisson