Home > Lain-lain > Berani untuk menolak..

Kemarin ada seorang mantan anak buah yang datang menyamperin saya dengan senyum yang lebar tersungging di bibirnya. ‘I broke up’ lapornya, tetapi tidak tampak sedikitpun ada tanda kesedihan tersirat di wajah. Saya emang tahu tentang pacar terakhirnya yang sering dia obrolin kalau sedang mampir, yang merupakan seorang keturunan China. Sedang dia sendiri, perempuan petite yang cukup cantik keturunan Philipina yang selalu rame dan ceria.

Padahal beberapa bulan yang lalu, dia datang dengan tersedu-sedu dan sedikit bercerita dengan bernada mengeluh. Soalnya sang pacar akan melanjutkan sekolah di Boston untuk beberapa tahun lamanya dan harus pergi jauh. Mereka sudah berhubungan selama kurang lebih dua tahun dan yang satu ini entah yang keberapa yang saya tahu. Selalu gonta ganti dan acap dikenalin ke saya, dan nanti datang dengan seorang yang lain lagi setelah beberapa bulan berlalu.

Ketika saya tanya siapa yang memutusin, dia mengatakan sang pacar yang mengirimkan text message. Alasan long distance relationship yang tidak bisa dipertahankan merupakan alasan klasik yang sudah termasuk kelas garbage. Teringat lagu ‘Pergilah Kasih’ yang meratapi sang pacar untuk pergi mengejar cita-cita, yang awalnya mengutuk tetapi terpaksa harus rela dengan hati yang hancur yang pernah dinyanyikan oleh almarhun Chrisye. Padahal sih, sebenarnya sudah ketemu dengan orang lain di seberang sana dan jauhnya jarak cuma menjadi alasan yang cliche.

Tapi saya tidak percaya dengan ketegaran hatinya dan langsung menembak untuk bertanya tentang siapa gerangan orang yang baru. Dengan cepat dikeluarkan smartphonenya dan menunjukkan photo-photo dari Instagram, gambar seorang cowok yang sedang diburu. Dasar anak-anak ini yang tidak mau waktu hanya habis terbuang percuma dipakai untuk meratap atau sakit hati dibakar api cemburu. Selalu meloncat kesana kemari dan dengan sigap untuk hinggap di ranting cinta yang baru tumbuh.

Anak-anak Amerika di sini sudah terbiasa dengan melakukan hubungan seksual sejak mereka beranjak remaja. Tidak ada yang bisa melarang, tidak juga ajaran agama dan larangan keras dari keluarga. Sekolah-sekolah sejak setingkat SMP sudah memasukkan kurikulum mengenai perkembangan seksual di dalam mata pelajaran mereka. Yang mereka ajarkan adalah penyakit-penyakit kelamin yang mengerikan sehingga anak-anak ini mau menggunakan pengaman dan supaya tidak pernah lupa.

Salah satu anak buah saya ada yang mengaku kalau dihadiahkan sekotak kondom oleh orang tuanya saat dia berusia 16 tahun. Walaupun mukanya memerah saat membuka bungkusan kado tetapi orangtuanya dengan serius menyakinkan dia supaya menjaga diri dan berlaku santun. Orang-orang tua akhirnya mengalah dengan hormon masa muda yang menggelegak-gelegak dan memilih untuk lebih baik menuntun. Rasanya tidak mungkin mengekang dan mengawasi mereka selama 24 jam, walaupun sudah diberikan peringatan atau hukuman sekeras apapun.

Porsi terbesar dalam pelajaran seksual di sekolah-sekolah ditujukan kepada siswa perempuan supaya mereka berani untuk menolak. Mereka yang harus menentukan dan jangan hanya termakan rayuan serta harus tegas untuk mengatakan tidak. Film proses kelahiran seorang bayi diputar di ruang kelas dan bukan lagi dalam bentuk animasi tetapi benar-benar yang asli dengan erangan kesakitan dan darah yang banyak berserak. Karena kehamilan remaja merupakan salah satu permasalahan yang banyak dihadapi di Amerika, yang membuat runtutan berbagai dampak ekonomi dan sosial yang banyak.

Sedang pernah ada anak buah yang lain lagi yang kedapatan hamil dan melahirkan di ujung masa SMA. Padahal dia cukup pintar dan berpotensi, hanya gara-gara lupa dengan pil kb yang selama ini dikonsumsinya. Memang, mereka sejak muda sudah mengenal alat kontrasepsi, dan biasanya diperkenalkan oleh sang bunda. Memang agak susah untuk mengerti pola pikiran orangtua mereka tetapi memang kenyataannya seperti itu dari pada mengobati lebih baik mencegah.

Kaum perempuan memang selalu menjadi alas kaki dari segala macam persoalan rumah tangga di manapun di seluruh dunia. Tanpa pernah bisa menentukan nasib diri sendiri dan hanya bisa untuk pasrah dan menyerah. Saya menyarankan kepada seorang teman yang mengalami penganiayaan fisik, mental dan finansial dari sang suami untuk segera keluar dari rumah. Apalagi dia dengan pengalaman mempunyai kerja dan menjalankan bisnis sendiri, saya yakin dia akan bisa bertahan dan bangkit dari remah-remah bukan sebagai orang yang kalah.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan: petite = kecil mungil.