Home > Lain-lain > Shtisel..

Ada serial drama menarik sebuah produksi dari negara Israel yang sedang saya tonton selama seminggu ini. Drama ini telah mendapat perhargaan sebagai drama terbaik yang kalau di Amerika sama dengan seperti perhargaan Emmy. Yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari keluarga besar Shtisel yang tinggal di Jerusalem, di bagian quarter untuk orang-orang Yahudi. Mereka adalah keturunan keluarga Ultra Orthodox yang sangat ketat dengan berbagai macam peraturan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Jangan harapkan untuk melihat tampang yang cakep, tanpan serta cantik karena ini bukan drama Korea atau keluaran Hollywood. Hanya mungkin pemeran utama prianya, Michael Aloni yang agak lumayan, dengan mata berwarna hijau tetapi dandanannya sangat sederhana dan sering terlihat butut. Seperti penampilan khas orang-orang ultra orthodox dengan rambut lebat di wajah yang sepertinya sedikit agak tidak terurus dan terlihat kecut. Apalagi dengan peyo yaitu sepotong rambut ikal yang panjang di dekat kedua belah telinga yang tampak seperti buntut.

Cerita drama berputar di sekitar kehidupan Akiva Shtisel, seorang pemuda berusia 27 tahun yang masih jomblo dan belum pernah berbuat apa-apa. Jangankan untuk mencium seorang wanita, karena peraturan agama yang sangat kuat membuat mereka haram bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya. Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, Akiva masih tinggal bersama sang ayah untuk mengurusnya sejak ditinggal oleh kepergian sang bunda. Dia bekerja sebagai guru madrasah, di mana sang ayah menjadi kepala sekolah yang selalu merasa sok tahu dan mencampuri urusan hidupnya.

Keluarga Shtisel merupakan golongan kelas menengah yang sangat patuh akan hukum Torah dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Para wanita selalu menggunakan tutup kepala dan menggunakan wig atau rambut palsu jika ingin keluar rumah untuk pergi. Baju mereka berlengan panjang dengan rok melewati lutut dan biasanya berwarna kelam atau pucat serta tidak ada yang berwarna warni. Sedang para pria dengan baju putih bercelana hitam dengan baju dalaman tzitzis serta jubah kelam yang panjang dan dilengkapi dengan memakai yarmulkes sebagai topi.

Kive, nama panggilan si jejaka masih sangat culun dan tidak tahu apa yang menjadi kemauan dan kadang sering bertindak bagaikan anak kecil. Sebenarnya dia ingin melepaskan diri dari bayang-bayang sang bapak yang merupakan seorang rabbi yang terhormat dan disegani orang tetapi masih suka mencampuri urusan orang lain dan cenderung usil. Seorang ayah yang tidak pernah menghargai darah seni masing-masing anaknya karena menurutnya itu perbuatan setan atau devil. Akiva pintar melukis, abangnya bisa menyanyi dan kakaknya bisa bermain alat musik tetapi bagi bapaknya darah seni mereka hanya akan membawa mereka masuk ke neraka menemani setan yang jahil.

Akiva tidak pernah marah, selalu bernasib baik dan sebenarnya sangat talented dalam melukis tetapi ilhamnya hanya datang sekali-sekali. Kalau sudah melukis dia bisa menghasilkan karya yang menakjubkan hingga memenangkan penghargaan tetapi di hari lain kerjanya hanya tidak menentu dan wara wiri. Kalau sudah berantem dengan bapaknya dia kabur dari rumah dan menumpang tidur di mana saja dan herannya selalu bertemu dengan orang yang berbaik hati. Sekali dia meninggalkan bapaknya yang ketiduran di kereta api dalam perjalanan mereka keluar kota karena dia hanya ingin berendam di laut untuk mandi padahal dia lupa mengenakan jubahnya serta tidak membawa uang sama sekali.

Sanak keluarga, terutama sang ayah sibuk mencarikan jodoh untuk Akiva tetapi dia selalu galau untuk menentukan pilihan hatinya. Walaupun sudah ditawarkan seorang gadis tetapi dia malah jatuh hati kepada seorang janda yang merupakan orang tua muridnya yang sedikit lebih tua. Suara-suara sumbang dari orang sekitar membuat dia akhirnya memberanikan diri untuk melamar untuk menjadikan tunangannya. Tetapi dia gamang ketika sang janda mengajaknya untuk pergi merantau ke Eropah untuk menjauh dari lingkungan yang usil dan akhirnya meninggalkan Akiva.

Seorang kakak ipar dengan entengnya pergi meninggalkan keluarga yang sudah beranak lima dengan alasan mencari kerja ke Argentina. Walaupun nanti dia kembali lagi dengan berbagai kata penyesalan tetapi sifat culasnya tidak bisa hilang dan selalu bermimpi menjadi kaya dengan cara yang mudah. Sang istri masih mau menerimanya kembali walaupun sudah berbulan-bulan ditelantarkan karena tidak ingin merusak nama baik keluarga. Dalam kehidupan keluarga ultra orthodox suami istri tidur di tempat terpisah dan herannya mereka masih bisa bunting dan beranak pinak seperti kelinci yang tidak mengenal program keluarga berencana.

Menonton serial ini menambah pengetahuan saya tentang tata cara kehidupan Yahudi ultra orthodox yang sedikit ketinggalan jaman. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan teknologi seperti menyetir mobil dan menjauhi kemajuan peradaban. Sang nenek yang dititipkan di panti jompo, sekarang mempunyai kegemaran baru untuk menonton acara tv yang tidak pernah dia saksikan. Karena dia sudah jarang membaca Torah, sekali waktu sang cucu datang untuk mencabut sambungan antena supaya dia bisa kembali mengaji sebelum nyawanya dicabut Tuhan.

Filmnya sangat simple tanpa dekorasi yang glamour dan kadang-kadang membuat saya ngakak habis mendengar ucapan mereka. Bukan mereka bermaksud membadut tetapi sebuah ucapan normal yang terasa janggal di telinga. Suatu kali sang nenek yang sudah 90 tahun nyasar masuk ke kamar laki-laki tua teman se asrama karena pikun dan mengira itu suaminya. Sang teman di sebelah kamar menelpon sang anak dan menyuruh mereka untuk datang segera mengambil sang nenek sebelum dia hamil lagi dan bisa menambah anggota keluarga.

Walaupun mereka melengkapi diri dengan atribut keagamaan dan mengerjakan ritual tetapi tingkah lakunya kadang masih jauh dari berbuat amal. Seorang pemilik toko lukisan terkenal, sering menipu pelanggannya dengan menanda tangani lukisan karya orang lain supaya bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Seorang janda Rabbi yang terhormat menjadi agen penukaran uang dan menjalankan praktek riba yang pasti bukan sesuatu yang sakral. Sedang sang ayah, hobby mendekati janda-janda yang baru ditinggal mati oleh suami mereka dengan alasan belasungkawa padahal hanya ingin menumpang makan enak dan membual.

Tabik.

B. Uster Kadrisson

Catatan :
Tzitzis = baju dalaman dengan empat untaian anyaman di masing-masing ujungnya, sebagai symbol persatuan kaum Yahudi.
Yarmulkes = skullcap, topi yang menutupi ubun-ubun.