Home > Lain-lain > Sepatu yang bergelantungan..

Jika berjalan-jalan di kota-kota di Amerika terutama di daerah pemukiman banyak dijumpai sepasang sepatu yang tergantung di kawat listrik. Sepatunya masih bagus dan layak pakai kadang-kadang masih baru sama sekali dan sangat cantik. Tapi jangan coba-coba untuk diambil, bisa panjang nanti ceritanya. Walaupun digantung di lokasi terbuka, sepatu itu ada yang punya.

 

Itu adalah pertanda untuk menentukan wilayah kekuasaan atau daerah kerja. Ada peraturan tidak tertulis untuk berbicara “Ini wilayahku jangan coba-coba masuk tanpa ijin apalagi menggangu pelanggan saya”. Itu adalah tanda wilayah untuk para pengedar narkoba. Artinya ada seseorang yang menjadi makelar di sana.

 

Sekali waktu saat saya membawa B.K. berjalan-jalan sore di sekitar rumah seperti biasa. Dari arah depan ada tetangga yang rumahnya dipojokan berjalan mengendong anaknya yang kurang dari satu tahun usianya. Saat menunggu B.K. untuk pee saya menoleh dan melihat seorang lain dari seberang jalan berlari mendekatinya. Mereka saling berjabat tangan dan saya lihat ada yang bertukar di genggaman mereka.

 

Baru saya tahu kalau dia ternyata termasuk seorang pengedar narkoba. Saat saya menengadah terlihat tergantung di kawat sepasang sepatu berwarna merah. Ketika kembali berpapasan melewati saya dia tersenyum dan berkata. ‘Let me know if you need something bro, I got ya..’

 

Pernah dengar cerita dari teman sekerja tentang keluarga pacarnya yang menjadi pengedar. Seluruh anggota keluarga dikerahkan secara maksimal supaya usahanya lancar. Bapaknya yang mencari pemasok barang dan ibunya yang menerima telpon melakukan tawar menawar. Anak-anak dan mantu berdiri di pojokan jalan sebagai mata-mata kalau ada polisi yang mengincar.

 

Ada aturan main yang ketat di dalam keluarga para pengedar ini. Para anggota tidak boleh memakai barang yang menjadi komoditi. Karena menjadi bisnis utama keluarga yanh sudah dihitung untung dan rugi. Kalau ingin memakai harus membeli sendiri dari uang pribadi.

 

Saya pernah tinggal beberapa waktu di satu apartment dengan keluarga pemadat. Bersama pasangan tanpa nikah di mana si perempuan sudah mempunyai anak empat. Kadang-kadang saya kasihan melihat anaknya menangis sedangkan orang tuanya sedang asyik dengan barang laknat. Anak tertua yang berusia sepuluh tahun menjaga adik-adiknya supaya mereka tidak mengganggu ibunya yang sedang nikmat.

 

Saat kuliah ada teman yang hobby banget bereksperimen dengan benda-benda terkutuk ini. Dia anak orang kaya sehingga mudah baginya mendapatkan barang-barang yang harganya bisa sebulan gaji. Dia cuma pengen coba gimana rasanya dan dia sangat bisa untuk menahan diri. Semua dicobanya dari mulai yang ringan ngelinting ganja, juga pil anjing atau kuda sampai extacy.

 

Pernah menonton film serial Narkos di Netflix beberapa kali. Akhirnya saya malas mengikuti selanjutnya karena tidak sesuai dengan hati nurani. Para pemasok kaya raya bergelimang harta diatas penderitaan jutaan orang yang ada di seluruh negeri. Herannya mereka sangat taat beribadah sehingga menjadi suatu kontradiksi dan sekaligus ironi.

 

Banyak kota-kota besar di Amerika Selatan yang sangat rawan untuk dikunjungi. Seperti beberapa kota di Colombia dan juga Mexico City. Kejahatan dan transaksi narkobanya sangat terbuka dan tidak ditutup-tutupi lagi. Hati-hati jika pergi kesana bisa-bisa mendapat peluru nyasar perang antar genk yang berebut bisnis serta lokasi.

 

Sewaktu Duterte presiden Philipina naik ketampuk pemerintahan dengan janji memerangi sindikat narkoba yang sudah seperti kanker menggerogoti. Banyak yang bersuka ria karena ada harapan akhirnya negara mereka akan terbebasi. Dengan tangan dingin dia menghabisi semua pengedar dan pemakai tanpa terkecuali. Sekarang dia dikecam habis-habisan karena sudah terlalu banyak yang mati.

 

Saat ayahanda berdiri tegar untuk memerangi sindikat setan yang sudah sangat mengakar. Memberikan ultimatum untuk memberikan hukuman mati dan tanpa ampun untuk sang pengedar. Anehnya ada sebagian orang yang berdalih HAM menentang dengan mulut berbusa berkoar-koar. Coba kalau korban narkoba itu ada di keluarga mereka sendiri, apakah baru mereka sadar?

 

Tabik.

 

 

B. Uster Kadrisson