Home > Lain-lain > The borrowers..

Tiga minggu sebelum hari Natal adalah hari-hari dimana kesibukan retail yang terbesar di Amerika. Diperkirakan ada bilyunan dollar yang dibelanjakan baik dengan cara klasik belanja di toko atau lewat online di dunia maya. Saya juga nga tahu berapa banyak jumlah angkanya kalau dihitung dengan nilai tukar rupiah. Pasti berleret-leret saking banyaknya dan panjangnya bisa saingan dengan kereta.

 

Sehari setelah Natal juga merupakan hari-hari yang tersibuk bagi toko-toko retail ini. Para pelanggan akan ramai merubungi bagian customer service dan sudah antri mulai dari pagi. Kali ini bukan untuk komplain tapi untuk mengembalikan barang-barang yang sebelumnya sudah dibeli. Kado-kado Natal yang kemaren didapat, dikembalikan ke toko untuk diganti dengan yang lain atau mendapat uang kembali.

 

Berbagai alasan mereka untuk mengembalikan barang-barang ini. Mulai dari ukuran atau warna yang tidak cocok serta sudah punya dobel sehingga tidak butuh lagi. Bisa juga cuma karena ingin duit cash sehingga bisa digunakan untuk membeli keperluan lain yang diingini. Tapi apa rasanya ya, jika tahu kalau pemberian seseorang itu tidak dihargai.

 

Rata-rata semua toko bisa menerima kembali barang-barang yang sudah dibeli. Urusannya tidak terlalu sulit asal punya receipt atau bon pembelian sebagai tanda bukti. Tapi masing-masing toko mempunyai policy atau peraturan sendiri-sendiri. Bisa mengembalikan uang tunai atau memberikan store credit artinya harus membeli barang yang lain lagi.

 

Phenomena ini terjadi tidak terlalu lama baru sekitar dua dekade belakangan saja. Tidak seperti di masa lalu, di mana orang-orang sangat senang kalau mendapat hadiah. Saat kini orang-orang sangat pilih-pilih sehingga memberikan hadiah bisa membuat sakit kepala. Dari pada repot-repot mencari barang yang tepat mendingan dikasih gift certificate saja.

 

Kasir biasanya akan menanyakan apakah barang yang dibeli untuk dipakai sendiri atau sebagai hadiah. Kalau untuk kado apakah kita membutuhkan receipt yang terpisah. Sehingga bisa disertakan bersama dengan barang tersebut saat akan memberikan. Tapi apalah artinya pemberian dari seseorang jika nanti akan kembali dipulangkan.

 

Ada syarat-syarat tertentu supaya barang bisa diterima kembali. Syarat pertama semua label dan harga masih terpasang dengan rapi. Tidak boleh ada cacat cela dan tanda-tanda kalau sudah pernah dipergunakan. Ada teman yang menggunakan selotip di alas sepatu saat dipakai berjalan-jalan.

 

Ada tetangga yang.. gimana yah bilangnya, saat dulu saya di San Francisco. Saat akan membikin pesta dia membeli barang-barang perlengkapan dari berbagai toko. Dari mulai peralatan masak yang komplit, piring dan gelas serta juga teko. Giliran selesai pesta, dia bersihkan dengan seksama dan dikembalikan tanpa banyak neko-neko.

 

Ada pasangan teman di sini yang kelakuannya na’uzubillah pelit habis. Kalau mau meeting atau travelling mereka beli jaket-jaket yang bagus dan necis. Labelnya diselotip dan dijaga supaya tidak terlepas. Setelah urusannya selesai semua barang dikembalikan dan mendapat kembali uang cash.

 

Itu masih belum seberapa tingkah lakunya mereka, pernah sekali membeli bunga anggrek yang sangat indah. Saat musim gugur bunganya rontok, mereka kembalikan ke toko beserta pot-potnya. Mereka bukannya miskin karena punya rumah dengan 6 kamar yang berlantai tiga. Sebagai konsultan dengan gaji sebulan diatas 70 juta dan emang karakternya begitu mau dibilang apa.

 

Tapi perilaku ini juga terlihat pada artis-artis ternama dan orang-orang terkenal di dunia. Sebagai publik figure mereka ingin selalu tampil menawan dan terlihat dalam balutan pakaian yang mewah. Berganti-ganti kostum dan tidak ingin di photo dua kali dengan pakaian yang sama. Sebagai model berjalan, mereka dipinjamkan gaun dan perhiasan yang indah oleh rumah-rumah mode ternama.

 

Ada layanan jasa peminjaman baju-baju atau perhiasan di Amerika. Dengan memberikan jaminan kartu kredit serta seseorang harus menjadi anggota. Tinggal order secara online, baju akan sampai di rumah dalam beberapa jam saja. Setelah selesai pesta tinggal telpon nanti mereka jemput tanpa harus bersusah payah mengurusnya.

 

Saya paling jarang untuk mengembalikan barang-barang. Sebelum membeli saya sudah berpikiran berulang-ulang sampai matang. Dipertimbangkan untung dan ruginya serta segala sesuatu yang lain sebagai kemungkinan. Kalau terima kado apapun bentuknya akan selalu saya simpan sebagai kenang-kenangan.

 

Sebenarnya tidak semua toko senang dengan keputusan ini. Tapi undang-undang perlindungan konsumen yang sangat ketat mengharuskan mereka untuk mentaati. Customer bisa menuntut kalau receiptnya tidak diberi. Jadi kalau mesinnya rusak kita harus bilang ke mereka sebelum mengadakan transaksi.

 

Barang yang sudah dikembalikan masih layak untuk dijual. Tapi karena bungkusnya sudah tidak utuh sehingga harganya jauh dari mahal. Saya suka membeli barang-barang elektronik yang dikembalikan istilahnya ‘Open Box’. Lumayan bisa ngirit sampai 40 persen, nga bikin kantong jeblok.

 

Tabik.

 

 

B. Uster Kadrisson

Catatan :
Ilustrasi ini adalah buku anak-anak yang menceritakan tentang orang-orang mini yang ‘meminjam’ sesuatu dari rumah tumpangannya sekedar untuk survive.