Home > Lain-lain > Christmas in New York..

18 tahun yang lalu saya sengaja pergi liburan ke New York saat musim dingin selama tiga minggu. Berangkat sebelum Natal dengan harapan saat Christmas nanti bangun pagi melihat hamparan putih yang tertutup salju. Saya cuma membawa satu tas ransel dan sebuah duffel bag ringan sebagai tentengan. Teman saya Ricky yang mengantar ke bandara heran dikira saya mau pergi ke Bekasi dengan bawaan kayak gituan.

 

Di New York saya menginap di hostel buat anak-anak muda yang biayanya sangat murah. Sekamar bisa empat atau enam orang dan setiap hari berganti-ganti rupa.
Sedikit harus berhati-hati dengan barang bawaan yang disimpan di locker terkunci. Sekali waktu locker saya dapati sudah terbuka, tapi nga ada yang hilang karena emang nga ada barang berharga yang bisa dicuri.

Salju baru turun setelah dua hari kemudian selepas Natalan. Saya jalan-jalan keluyuran di Fifth Avenue sambil menjulurkan lidah menangkap salju yang turun perlahan. Suasana sangat syahdu dengan cuaca kelam yang dihiasi kerlap-kerlip lampu indah bertebaran. Seperti di film-film, ada asap yang berasal dari pemanas keluar dari cerobong di jalanan.

 

Saya sudah beberapa kali merasakan suasana Natal di berbagai kota yang berbeda di Amerika. Christmas di New York adalah pengalaman yang paling indah dari semua. Hiasan lampu aneka warna di mana-mana membuat semarak suasana. Toko-toko sepanjang Fifth Avenue sibuk berlomba menghiasi jendelanya untuk menarik pelanggan untuk berbelanja.

 

Pusat-pusat perbelanjaan seperti Saks Fifth Avenue dan Macy’s membuat suatu atraksi yang sudah menjadi tradisi. Window display di kedua toko ini sangat indah sehingga menjadi acara yang wajib untuk dikunjungi. Dalam balutan jaket tebal ratusan pengunjung menunggu dengan sabar berdiri mengantri. Melihat sekali saja tidak cukup perlu berulang beberapa kali supaya puas hati.

Waktu saya tinggal di Boston dulu, ada sebuah area tempat di mana bermukim orang-orang kaya. Setiap awal Desember mereka sudah mulai menghiasi rumahnya dengan lampu-lampu dan hiasan yang pasti mahal harganya. Saat malam tiba suasana di sekitar seperti pasar malam, mobil-mobil dan pejalan kaki berjalan perlahan menikmati indahnya. Seperti biasa selalu aja ada tetangga yang sirik, mereka dilaporkan ke polisi karena mengganggu ketentraman warga.

 

Di New York juga ada daerah pemukiman yang merayakan Natal dengan tradisi yang sama. Letaknya di Dyker’s Heights di daerah Brooklyn, kalau di peta daerah ini ada di bagian bawah. Rumah-rumah di sepanjang jalan berlomba-lomba menampilkan hiasan yang terbaik aneka rupa. Ntah berapa biaya tagihan listrik di akhir bulan yang harus dibayarkan oleh yang empunya rumah.

 

Ada juga tetangga dekat rumah yang punya banyak koleksi hiasan untuk dekorasi. Setiap mulai bulan Oktober hiasan rumahnya selalu berbeda-beda silih berganti. Dimulai dari Halloween yang menyeramkan lanjut ke Thanksgiving yang penuh dengan nuansa daun berguguran. Ditutup hiasan Christmas yang indah, ada cuma kelihatan kaki Santa Claus di atas atap karena menjulur masuk lewat cerobong perapian.

 

Suasana festivities sangat terasa di New York melebihi kota-kota lainnya. Orang-orang mengenakan sweater dengan tema Natal, banyak terlihat topi santa di sini dan di sana. Minggu kemaren ada acara Santacon yang diikuti oleh puluhan ribu orang berpakaian ala Santa Claus, kota menjadi seperti lautan merah. Sayangnya tingkah mereka yang diikuti oleh kebiasaan minum-minum membuat banyak kejadian yang membuat resah.

 

Sebulan sebelum Christmas ada tradisi penyalaan pohon Natal terbesar di dunia bertempat di Rockefeller Center. Dihiasi 50 ribu lampu serta bintang kristal Swarovski besar dipuncaknya, tingginya mencapai 25 meter. Tradisi ini dimulai sejak delapan dekade lalu saat masa Great Depression, untuk membangkitkan harapan. Sekarang menjadi tujuan wisata tahunan yang setiap hari dikunjungi hampir setengah juta wisatawan.

Sejak beberapa tahun yang lalu, hari Natal selalu membuat saya menangis sedih. Teringat akan seorang teman baik yang masih muda belia meninggal dunia di hari ini. Menderita sakit demam berdarah, cuma beberapa hari saja, tanpa sebab yang jelas dia berpulang ke Rahmatullah. Siklus kehidupan harus terus berjalan, di hari dia meninggal seseorang yang agung dirayakan kelahirannya.

 

Ada yang berkata kalau tanggal 25 bukanlah hari yang tepat untuk merayakan kelahiran Nabi Isa. Ah, tidak terlalu penting tentang tanggal yang akurat karena toh beliau tidak harus mengisi ktp atau kartu keluarga. Maulid Rasullullah yang mengikuti kalendar Hijahiyah selalu berubah-ubah waktunya dari masa ke masa. Penanggalan Yahudi dan China juga kadang-kadang berganti-ganti saat menentukan kapan Hanukah atau awal tahun baru China.

 

Selamat Hari Natal buat teman-teman yang merayakan. Selamat ulang tahun wahai Rasul Allah, Isa alaihi salam.

 

Tabik.

 

 

B. Uster Kadrisson

Houses at Dyker’s Heights