Home > Lain-lain > Bu Susi..

Film yang ditunggu-tunggu dari tahun kapan akhirnya nongol juga, yaitu Aquaman. Udah bela-belain nonton hampir tengah malam biar agak sepian, nga tahunya malah penuh desak-desakan. Nonton di bioskop yang sound systemnya punya Oom Dolby, suara menggelegar membuat tempat duduk bergetar dan popcorn beterbangan. Kenapa saya panggil Oom Dolby, karena waktu di San Francisco dulu kita tetanggaan, rumah dia gedean, saya mah kos-kosan yang kecilan.

 

Special effectsnya yang tanpa cela membuat kagum, pokoknya keren abess. Apalagi saat diperlihatkan kota Atlantis di bawah air yang sangat cantik, melihat hingga nga berkedip sampai mata jadi pedes. Penggambaran tekhnologi Atlantean yang sangat menakjubkan, bangunan dan alat transportasi, ngebayangin aja udah bikin air liur menetes. Diakhir cerita sang jagoan utama pastilah menang dan dapat bersanding dengan sang princess, yang jomblo silahkan ngences.

 

Melihat kekuatan laut yang sangat dasyat dan kadang-kadang bisa sangat mengerikan. Pengalaman kita yang mengalami bencana tsunami berkali-kali sudah memberikan sedikit gambaran. Ada adegan di mana sampah-sampah yang tertimbun di dasar laut dan mengotori lingkungan dikembalikan. Ternyata kita sebagai makhluk yang berakal di atas bumi ini telah membuat banyak kerusakan.

 

Pernah ada video yang nga tega saya melihatnya dan membuat hati menjadi sedih. Saat seekor penyu laut dicabut sedotan plastik yang panjang dari hidungnya, yang pasti sangatlah perih. Ada berita tentang didapati banyak tumpukan sampah di dalam perut ikan paus yang terdampar mati. Sepertinya sudah waktunya kita harus berbenah diri dan sedikit demi sedikit mulai peduli.

 

Di awal pemerintahan, ayahanda berkata kalau kita sudah terlalu lama memunggungi laut sebagai sumber kehidupan. Puluhan tahun wacana Jalesveva Jayamahe cuma dipajang di dinding hanya menjadi sebuah slogan. Sudah saatnya kita kembali perkasa di laut seperti lagu masa kanak-kanak yang dulu sering kita nyanyikan. Karena nenek moyang bangsa kita adalah para pelaut tangguh dan mereka berjaya di lautan.

 

Kalau berbicara tentang laut kita juga punya jagoan yang nga kalah keren, siapa lagi kalau bukan sang Aquawoman. Dedikasinya yang sangat tinggi untuk menjaga kelestarian lingkungan, terutama biota laut sangat patut untuk mendapatkan pujian. Kampanye makan ikan untuk peningkatan gizi anak disertai dengan tersedianya supply yang berlimpah harus mendapat dukungan. Tak ada lagi istilah kalau banyak makan ikan ntar cacingan, orang yang ngomong begitu wajib ditenggelamkan.

 

Saat penunjukan beliau dahulu di awal penyusunan kabinet banyak mendapat cemoohan dari kiri dan kanan. Orang-orang meragukan kemampuannya karena pendidikan SMA aja nga terselesaikan. Ditambah lagi dengan kebiasaannya merokok serta kaki yang tattooan. Banyak suara miring bernada sumbang yang berkomentar “Kok yang dipilih yang begituan”.

 

Tapi sama seperti sang atasan yang lebih memilih untuk diam dari pada menanggapi segala nyinyiran. Bekerja keras menjaga laut dari cengkeram para mafia perikanan yang sudah seperti kaki gurita saling membelit sukar untuk diuraikan. Kapal-kapal berbendera asing yang menjarah kekayaan laut kita ditangkap dan banyak yang ditenggelamkan. Yang herannya malah banyak politisi lokal yang bercuap-cuap menentang kebijakan ini, si ibu mah pasti bilang “Ah, peduli setan”.

 

Beliau tidak jaim, cuek dengan penampilan sebodoh amat apa kata orang. Bayangin aja, baru juga diangkat jadi mentri udah tersebar photonya yang lagi merokok nongkrong bareng wartawan di bagian belakang. Photo-photo lagi duduk selonjoran di lantai, tattoonya yang tersingkap atau yang lagi stretching di atas kapal perang. Yang lebih parah lagi sampai ada photo candidnya yang lagi ngupil saat sedang sidang.

 

Banyak video-video beliau dalam berbagai kegiatan, pertemuan dengan warga saat kunjungan kerja. Ada yang sedang berbicara dengan para nelayan duduk di warung kopi bercanda ria bagaikan dengan teman saja. Malah ada salah satu yang hadir di sana tanpa memakai baju bertelanjang dada. Pernah juga melihat photo beliau saat berkunjung ke satu daerah duduk di belakang naik mobil pick-up bak terbuka.

 

Tapi dari semua ada satu photo yang saat melihat tak kuasa saya untuk menahan supaya airmata tidak mengambang. Saat beliau menggendong sang ibunda di punggung waktu akan menaiki pesawat terbang. Aduh ibu, tiada pahala yang dibalas oleh Allah seketika melebihi kecepatan cahaya kilat di langit terbentang. Bau surga sudah pasti tercium jika seorang anak berbakti kepada ibunda yang melahirkan dan merawat dengan kasih sayang.

Salam hormat saya untuk anda, Bu Susi sang Aquawoman.

Tabik.

 

B. Uster Kadrisson

 

Catatan:
Susi Duyung karya Heri Budiono, di Bentara Budaya Jakarta. (Photo courtesy Rustika Herlambang)