Home > Lain-lain > Pennywise the Dancing Clown..

Baru aja lihat photonya Zontoloyo yang lagi dandan pake make-up ala artis pantomim bersama dengan gerombolan artis warung sebelah. Dengan bibir yang monyong seperti bibir perempuan Geisha abad lalu yang di cat berwarna merah. Disertai gambaran beberapa butiran hitam di pipi kiri dan kanan seperti tetesan airmata buaya. Jika dipakein wig warna warni teringat saya akan badut di iklan sabun cuci Daia.

Tapi anehnya kok saya malah terbayang dengan karakter cerita horror karya Stephen King dari novel berjudul ‘IT’. Diterbitkan tahun 1986 dengan tebal 1.138 halaman, kalau nga kuat ngebacanya bisa bikin mata sakit. Ketika sekitar 17 tahun yang lalu akhirnya saya mendapatkan novel originalnya, saya ngebacanya sedikit demi sedikit. Setiap lembar dibaca pelan sambil ngebayangin kembali adegan film miniseri tahun 1990 yang saat itu menjadi sangat hits.

Pennywise the Dancing Clown, nama karakternya yang menggambarkan seorang badut yang ceria dengan menggenggam balon di tangan. Walaupun tampak lucu ternyata dibalik make-up nya dia adalah tokoh sadis yang bisa menghilangkan nyawa orang tanpa segan-segan. Kebanyakan mangsanya adalah anak-anak kecil dengan menghisap energi yang sangat besar saat mereka sedang ketakutan. Typical child predatory, dia berlagak seolah-olah baik dengan memberikan benda-benda yang menarik sebagai umpan.

Dalam cerita itu tidak tahu dari mana dia berasal tapi sepertinya dia termasuk makhluk astral. Muncul setiap tiga windu sekali dengan membunuh orang-orang untuk dijadikan tumbal. Dia bisa berubah-ubah bentuk kadang-kadang menjadi gelandangan yang berbaju lusuh dan berambut gimbal. Tak jelas jenis kelaminnya, walaupun tampak seperti lelaki tapi diperkirakan dia kemungkinan adalah perempuan sundal.

Saya rasa tidak terlalu berlebihan kalau saya melihat karakter Pennywise the Dancing Clown dalam diri si Zontoloyo. Bersama dengan juragannya ksatria berkuda mereka hidup dari menghirup energi ketakutan yang sangat besar dari masyarakat Indonesia. Berbicara seolah-olah bijak dibibir bergincu mengumbar kata dan mengiming-imingi janji semanis gula. Tapi sebenarnya mereka menebarkan ketakutan dan kebencian yang membawa manusia ke jurang bencana.

Persis layaknya seorang badut tingkah dan ocehannya sering cuma untuk mengundang tawa. Bersama-sama dengan kembarannya yang tanpa partai tapi masih saja betah duduk di singgasana. Berdua mereka layaknya mimi dan mintuno yang saling melengkapi, seia sekata. Tapi lebih banyak bagaikan tokoh Thompson dan Thomson dari serial Tintin yang begoknya tiada terkira.

Badut-badut Senayan, nama yang layak untuk disematkan bagi mereka berdua. Dari puluhan RUU yang dijanjikan, sampai sekarang baru selesai cuma beberapa. Malah minta dimaklumi kalau kinerjanya ternyata jeblok adanya. Emang lah dasar manusia tidak tahu malu yang tidak ada gunanya bagi bangsa dan negara.

Seperti juga halnya dengan Pennywise, kayaknya jenis kelamin doi juga patut dipertanyakan. Mulutnya yang kayak emak-emak, terakhir berceloteh nga karuan membela banci kaleng yang berlagak sok jagoan. Menyalahkan pemerintah padahal udah jelas dia melanggar hukum menganiaya anak di bawah umur yang menyebabkan masuk tahanan. Eh, dengar-dengar ada penghuni lama yang kesenangan karena bakal nyicipi brondong bule yang masih perawan.

Bersama teman-temannya sealiran dia tergabung juga sebagai kumpulan badut-badut politik. Terus terang dulu saya ngefans banget sama si botak dan artis jadul yang sekarang udah ninik-ninik. Tumbuh besar remaja bersama karya-karya mereka dan juga kolaborasinya dengan Fariz RM yang begitu apik. Sayang, talenta yang begitu besar terbuang percuma, pernah juga mendengar kalau si Ninik katanya pernah kesedak karena ngisap mic.

Tabik.

 

B. Uster Kadrisson

Catatan :
Photo yang dibalik jeruji cuma meme editan, buat iseng2 berhadiah, jangan dianggap serius..😂